Klarifikasi Puisi Mahasiswa Otak sisa

Nyomot dari google
Setelah terbitnya puisi "mahasiswa otak sisa" di blog dan halaman facebook. Dan sempet saya tag beberapa teman kampus saya. Ternyata ada beberapa orang yang protes. Dia yang kali ini namanya benar-benar tidak mau disebutkan namanya itu berkata. "Maksud lu apa nulis kayak gitu" labrakdia tiba-tiba tanpa tedeng aling-aling. Padahal dia baru masuk kelas dan kayaknya belum sempet napas juga itu orang  begitu turun dari gojeknya, soalnya ngos-ngossan begitu ngomongnya + kayaknya dia angrybird banget. (Kalau Yang Belum Baca Puisi "Mahasiswa Otak Sisa Klik disini wae yahh)
"Maksud apaan?? Tulisan yang mana ya??" Tanya gue stay cool, biar gak sama-sama emosi.

"Itu yang mahasiswa otak setengah..."

"Owhh otak sisa kali" gue nglurusin judulnya.

"Terserah, lu tau gak itu namanya visi penghancur?? Aduhh...." jawabnya kesel banget, keliatan dia agak nahan emosinya juga.

"Iya sep, emang maksudnya apaan?" Timpal anak lain penasaran. Tiba-tiba anak kelas matanya langsung tertuju ke gue!  Serasa lagi dalam persidangan gue.

Glekkk gw minum dulu, aus soalnya.

"Oke gw gak tau maksud lu apaan tentang visi penghancur, gue taunya mesin penghancur kertas, soalnya kantor gue jualan itu (loh kok promo??). Gue cuman nulis oke. Dan gue gak punya maksud apa-apa" jelas gue coba setenang mungkin.

Oke disini gue coba klarisifikasi. Pernah baca surat terbuka untuk anak jokowi (kalo belum coba buka disini)?? Nah disitu kan terlihat begitu memojokkan si anu kan??(gw lupa nama anak presiden itu siapa, lagian gak keluar di UTS juga kan??)

Nah gw terkesan aja sama tulisan itu. Dan gue coba ikutin gaya 

Penulisannya itu. Entah apa hanya perspektif gue atau orang lain ada yang satu pemikiran sama kayak gue. Gini prespektif gue dari tulisan itu, emang tulisan itu terlihat memojokkan atau mengkritik si-anak itu yah. Tapi bagi gue itu sanjungan yang secara gak langsung dari penulis itu. Contohnya dalam surat terbuka itu dikatakan "mengapa kau sulit-sulit memikirkan kombinasi rasa martabak, bukankah lebih baik kau minta sedikit saham dari free port dan menjadi kakak minta saham?(ehh yang saya bold itu gak ada ya dalam surat itu biar lucu aja sih maksudnya hehehe).

Dalam kalimat itu jelas keliatan banget ya kayaknya kalau sipenulis bilang, ngapain sih lo anak presiden mikirin hal-hal gak penting macam itu?? Gak penting banget.

Tapi dimata gue, itu bukan sindiran. Itu berupa pujian buat anak presiden jokowi yang gue gak tau namanya itu. Kok pujian? iya menurut perspektif gue, dia secara gak langsung bilang "kok lu humble banget coy, elo gak mau apa jadi kayak anak presiden yang lain? Punya bisnis dimana-mana.pesta sana-sini. Secara anak presiden gituloh. Tapi lu tetep mau yang sederhana kayak gitu coba.

Begitupun puisi "Mahasiswa Otak Sisa" tersebut. Maksud gue sebenernya memuji semangat kalian untuk terus kuliah. Padahal seperti yang kita tahu, orang kerja itu pasti capek pikiran + capek fisik. Entah itu abis kerja rodi + dapat omelan si bos. Who knows lah ya?? Tapi kalian dengan penuh semangat masuk ke kampus. Tetap berusaha memintarkan diri, agar tidak jauh tertinggal dengan yang lain. Padahal

Kalau kita egois juga pasti mikir gini, ngapainlah gua kuliah?? Toh udah kerja ini gue. Daripada capek-capek kuliah mending tidur dirumah. But you know?? Semangat kalian belajar itu luar biasa. Orang lain mungkin berpikir lebih enak bocan setelah seharian kerja. Pergi pagi pulang malem. 

Atau mungkinkalau orang yang pengen punya ijazah s1 cukup bisa beli kok. Indonesia gitu apaaja ada asal ada doku. Tapi elo iyya ELO ELO pada memilih menjalani proses yang panjang dulu buat dapatkan ijazah itu. Salut gue sama kalian. Begitulah inti dari puisi gw.

But mungkin emang susah sih mentransformasikan pemikiran kita. Dan kita juga gak selalu bisa memaksakan kehendak kita agar semua orang suka sama yang kita perbuat. Karena seperti raditya dika "hidup ini kita yang jalanin! Tapi orang lain yang komentarin"

Nah gue jugas sempet nyari-nyari apakah ada-kah puisi macam itu? Puisi yang terlihat menyindir, tetapi bermakna sebaliknya.

Ternyata gak ada. Adanya puisi satir yang bermakna puisinya untuk mengkritik. Oke kalau gak ada gue resmi menentukan puisi macam itu namanya puisi "Ada udang dibalik batu" hohohoho semoga pak mentri pendidikan membaca ini dan segera meresmikan jenis  puisi baru ini, agar dapat dipelajari disekolah-sekolah.

Dan Last mohon maaf kalau ada yang merasa sakit hati dengan puisi tersebut..

#MenulisSetiapHari #OneDayOnePost 

Comments

  1. saya malah anggap puisi itu penyemangat. gaya bahasa nya saja yang lain. ada cara khusus memahami sastra

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Cie Kang Sae sama Mba Irma komennya sama cuman hmm doang hahaha

      Delete
    2. dirimu cemburu ya??? wwkwkwk...

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
  3. hahaha nggaklah malah seru entar jd kayak cinta segitig gtu wkwkwkwk

    ReplyDelete

Post a Comment