Puisi - Pencakar Langit


Langit kini mendung.

Siap menangisi bumi yang kian carut marut.

Aku hanya menyaksikannya dari balik jendela yang berembun.

Walaupun tak berair mata, kini akupun tengah berduka.

Tangisan dalam hati, dan itu lebih menyiksa.

Setiap air mata yang mengalir seperti air cuka yang langsung dituangkan pada luka.

Belum puaskah kau membuatku merasa tak ada lagi yang tersisa untukku?

Belum puaskah kau membuatku kembali merasa sendiri?

Silahkan kalau kau belum puas dengan itu semua!!!

Silahkan Hancurkan aku hingga berkeping-keping laksana kaca.

Silahkan kau cabik-cabik diriku seperti kertas.

Silahkan kau kembali untuk menghancurkan diriku.

Namun aku akan tetap kembali bangkit.

Bangkit dari tanah dan berdiri tegak laksana pencakar langit yang siap mengoyak langit.

#OneDayOnePost

Jakarta, 1 Maret 2017

Inspired by Demi Lovato song Skyscraper

Comments

  1. Wuih... Puisinya emosional banget...
    Mantap...

    ReplyDelete
  2. baiklah, akan ku hancurkan dirimu.hha
    Keren Bang Ian, puisinya bernyawa banget.

    ReplyDelete
  3. Saya nyerah kalau nulis puisi ....
    Harus belajar banyak dari mas Ian nich

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga mas nyerah kalau nulis tentang sejarah. Sama-sama belajar ya kang :D

      Delete
  4. Replies
    1. Nyuon kak Ci ci, ehh bener gak sih bahasa jawanya makasih begitu :v

      Delete

Post a Comment