The box


"Di, adikmu Risa kemana?? Kok jam segini belum pulang juga" tanya bapak, dari nada suaranya terdengar sangat cemas. Ibu apalagi, sejak tadi kerjaannya hanya mondar-mandir di depan pintu. Sesekali menghubungi nomer telepon teman-teman Risa, berharap ada kabar kalau Risa tengah bersama mereka.

Dasar anak gadis zaman sekarang, pasti jalan-jalanlah sama teman-temannya. Apalagi malam minggu seperti ini. Aku sebagai kakak laki-lakinya pun kalah, hanya bisa mendekam di dalam rumah.

"Paling lagi malem mingguan bareng teman-temannya bu, pak." jawabku enteng, toh dia memang biasa seperti itu. Padahal sering sekali di nasehati oleh bapak, agar tidak pulang malam, tapi tetap ngeyel.

"Ya tapi ini sudah jam berapa lho Di, masa jam segini belum pulang." Ibu makin cemas, setelah nomer yang di hubungi-nya tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan adikku.

"Kamu cari sana Di, ke tempat biasa dia nongkrong." perintah Bapak. Aku melongok jam di handphoneku yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aiihh benar-benar merepotkan anak satu ini. Aku harus cari kemana coba anak itu.? Dengan enggan aku akhirnya harus bangkit dari tempatku, seharusnya aku sudah bergelung dalam kasur dan selimut untuk bermimpi indah, menggantikan mimpi burukku tadi siang. Apalagi tadi habis hujan pasti akan sangat nyaman tidur dalam dekapan selimut dan guling kesayanganku.

"Di, ayo buruan-loh!!" ujar Ibu tak sabar.

"Iyya bu, ini mau ngambil jaket dulu" segera kumasuk ke dalam kamar untuk mengambil jaket.

Dugg..
Kaki-ku terantuk tv sehingga tubuhku limbung dan jatuh ke depan kardus, hingga kardus itu terbuka.

Tubuhku kaku seketika begitu melihat isi dalam kardus tersebut, kepalaku langsung berdenyut-denyut. Seakan-akan aliran darah memompa darahnya dengan cepat ke kepalaku semua.

'Risa' bisikku dalam hati. Ternyata pertengkaran itu bukan mimpi!!

Comments

Post a Comment