Terima Kasih Pagi

 

24 jam, rasanya sangat  kurang bagi Anisa. Sejak tiga bulan terakhir ini ia selalu uring-uringan seperti kebakaran jenggot, karena terlalu banyak yang ingin ia kerjakan tapi waktunya selalu sempit dan baginya kekurangan waktu. Maklum saja ia adalah MAhasiswa yang merangkap sebagai karyawan diperusahaan. Terlebih lagi ia juga anggota BEM di Universitasnya dan dikantor barunya si boss selalu memerintahkan hal-hal mendadak dan harus dikerjakan saat itu juga. Jadilah pekerjaan lain-nya tercecer bagaikan piring yang habis jatuh ke lantai dan setiap keping-nya berpencar entah kemana.

Selain bekerja, ia mengambil kuliah reguler malam disalah satu kampus swasta dan semester ini tak ada lagi kata untuk bermain-main, karena sebentar lagi ia harus skripsi. Lebih tepatnya dua semester lagi, ia harus mengerjakan skripsi itu dan harus bisa cum laude seperti apa yang ia cita-citakan. 

Dikampus pula ia menjadi BEM sebagai sekretaris dan harus menyiapkan proposal untuk seminar yang akan dilaksanakan dua bulan lagi, sebenarnya ia ingin berhenti di BEM tahun ini tapi pengurum BEM tahun ini merekrut dia kembali untuk menjabat sekali lagi menjadi sekretaris di BEM. Begitulah Anisa, selalu sulit mengatakan "NO" jika ada seseorang yang meminta tolong padanya.

Pada akhirnya ia yang uring-uringan sendiri. Bingung membagi waktunya, terlebih lagi ia banyak ikut komunitas-komunitas diluar sana.

   
    "Ndok, kok belum siap-siap kerja?"tanya bapak Anisa yang begitu melihat putri kesayangannya itu masih asyik di depan laptop-nya.

    "Belum pak, nggak tau hari ini males banget pak mau ngapa-ngapain" jawabnya murung dengan wajah kusut seperti pakaian belum disetrika. memang ia kemarin baru saja selesai ikut kepanitian di sebuah acara lumayan besar jadi ia sehari semalam ia menginap di tempat acara. pagi ini Seluruh tulangnya serasa akan lepas dari seluruh persendiannya dan rasanya lelah sekali.

    "Mandi dulu sana nduk biar semangat lagi" ujar Bapak Anisa sambil mengelus kepala Anisa yang terlihat sangat berantakan karena rambutnya mengembang disana-sini.


    "Iya pak" jawab Anisa segera beranjak dari tempatnya setengah hati karena rasanya sudah sangat PW ditempatnya.


    Dikamar mandi Anisa hanya menatap air dibak mandinya, seperti memastikan tidak ada monster yang akan keluar dari sana. Jari telunjuknya ia celupkan sesenti ke air bak mandi dan rasanya dingin sekali begitu airnya mengenai ujung jarinya, ia jadi ingin lari dari kamar mandi karena air-nya sangat dingin. Mungkin karena semalam habis hujan, jadi airnya sedingin es.

    Sambil menatap air dibak mandinya dengan ngeri, ia beranikan kembali mengambil air dengan gayung berwarna hijau yang ujungnya terasa licin, karena lumut yang mulai tumbuh disana. Dengan cepat ia mengguyurkan ke seluruh tubuhnya dan seketika pula dingin itu menjalar keseluruh tubuhnya, seperti ada aliran llistrik yang mengenai keseluruh tubuhnya. Detik itu pula ia ingin berteriak sekencang mungkin tapi otaknya berpikir cepat untuk mengurungkan niat itu karena bisa-bisa seluruh tetangga bahkan se kampung mendengarnya dan segera ke rumahnya mencari tahu apa yang terjadi dengannya. Tidak lucu sekali jika mereka ke rumahnya dan ternyata hanya ada satu anak perawan yang sedang bergelut dengan air dibak mandinya, sehingga berteriak-teriak seperti orang kesurupan. pastinya penonton kecewa :)

    Setelah dua kali guyuran air dari gayungnya, terasa sangat menyegarkan pikiran dan tubuh Anisa. Jadilah ia menikmati mandinya pagi ini dan seperti terisi kembali tenaganya. ternyata benar kata bapak mandi mengembalikan semangatnya lagi.

    Selesai berpakaian rapi dan siap berangkat ke kantornya, Anisa kaget di atas meja sudah tersedia Hot Lemon tea untuknya, asapnya masih mengepul.


    "Subhanallah sempurna sudah hari ini" bisiknya dalam hati sambil menyeruput pelan-pelan hot lemon tea buatan bapaknya.

    "Makasih ya pak" Ujar Anisa sambil memeluk Bapaknya yang sedang membaca koran di halaman depan.
   
    "iyya nduk"

    "Nisa berangkat ya pak, Assalamualaikum" pamit Anisa lalu bergegas menggas motornya ke jalanan menuju kantornya. Anisa bersyukur masih diberi waktu hari ini, dan Bapak yang sangat menyayanginya tentunya. Baiklah akan aku manfaatkan waktu yang sebentar ini niatnya dalam hati, sambil tersenyum seraya berucap Alhamdulillah sedalam-dalamnya. Wahai waktu, jika aku memikirkanmu memang terasa sangat sebentar. Tapi belum tentu ada hari esok untuk kujalani, maka aku harus memanfaatkan waktu yang diberikan Allah saat ini juga.



#HariKeduabelas #ODOP #FebruariMembara

Comments