Dee's Coaching Clinic (Part 1)



         Hari ini adalah hari yang paling bersejarah untukku:D Pasalnya hari ini aku akan bertemu Penulis yang menjadi penyemangat-kuuntuk  kembali lagi ke dalam dunia tulis-menulis, setelah vakum atau mati suri menulis hampir 2 tahun, dan rasa itu kembali setelah baca buku beliau, (partikel buku pertama yang say abaca ) rasanya itu seperti ada sebuah dorongan kembali untuk menulis dan mengekspresikan diri dalam pena dan kertas.

         Ide-ide liar kembali bermunculan ada sebagian yang kuperangkap dalam diari atau word document dan ku kunci rapat-rapat untuk nanti jika saatnya, karena aku merasa masih belum bisa kembali seperti dulu saat SMA yang aktif dan bersemangat untuk menulis. Dan waktu itu aku-pun masih punya banyak waktu luang.

        Kesibukan aku saat ini selalu menjadi hambatan yang membuatku urung untuk menulis, rasanya jadwal-ku sangat padat, Pagi hari dari jam 5 sampai jam 3 bekerja di sebuah café dan dilanjutkan jam 6 sore sampai jam 10 kuliah kelas reguler  malam. Tugas yang makin menumpuk dan rasa lelah fisik dan pikiran yang menyesakkan menjadi alasan terbesar untuk-ku mematikan kegiatan rutin-ku dulu.

        Dan saat aku menulis-pun aku sering terkendala tengan teknik-teknik yang membuat aku frustasi. Dan ide-ide yang begitu banyak tapi tak dapat aku tuliskan dengan baik, malah membuat aku semakin frustasi, hingga suatu hari aku melihat pengumuman di Twitter tentang “Dee Coaching Clinic” yang saat itu diadakan di solo dan aku bertanya pada admin apakah ada untuk di Jakarta? Seperti gayung bersambut, dengan semangat mengikuti syarat untuk mengikuti “Dee Coaching Clinic” ini. Syaratnya yaitu membuat review buku Gelombang. Beruntung aku baru selesai membaca-nya dan segeralah dalam waktu 2 jam aku menyelesaikan review milik-ku dan terpostinglah di blog ini.
Yeeeyy nama saya ada

  
            Waktu berjalan terasa sangat lama, 21 hari yang dengan penuh harap-harap cemas aku menantikan pengumuman, setiap hari pula aku mengecek timeline “Bentang pustaka” untuk melihat apakah pengumuman pemenang daerah Jakarta sudah keluar atau belum??,  sampai pada tgl 31 maret dipagi hari aku dikaget-kan ada sebuah email balasan dari Bentang yang menyatakan kalau aku berhak mengikuti “Dee’s Coaching Clinic” ini. Dan aku benar-benar tidak menyangka dapat terpilih menjadi salah satu pemenang review terbaik diantar begitu banyak review yang lainnya di jakarta ini. 3 kali ku membaca isi surat balasan dari Bentang untuk memastikan ini benar-benar terjadi dan bukan khayalan ataupun mimpi.  Ku cek pula di timeline twitter Bentang pustaka untuk melihat pengumumannya, antisipasi kalau pihak bentang salah kirim email itu.

             Betapa terkejut, bangga dan bahagia  melihat nama ku jelas terpampang disana pada urutan ke 9 :D kalau di film india mungkin aku akan menyanyi dan berjoget ria untuk merayakan kemenangan ini. 4 hari yang terasa bagaikan 4 abad untuk menanti hari ‘H’ “Dee Coaching Clinic” yang diadakan tanggal 5 April di perpustakaan BI (Bank Indonesia). Tak terbayangkan akan seperti apa hari esok itu :D

           Jam setengah 7 aku berangkat dari rumah menggunakan kuda putih-ku hehehe, terus dipacu hingga gedung BI yang aku bingung mau parkir dimana karena hari ini sedang ada car free day jadi kuputuskan cepat untuk memarkir motor di pasar senen. Dari sana aku berjalan sampai gedung BI yang Alhamdulillah cukup jauh. Tadinya aku ingin naik busway tapi tahulah kebiasaan busway pasti lama sedangkan jam di handphone-ku sudah menunjukkan pukul 7:47 pasti tidak akan sempat karena acara di undangan pukul 8.
    
          Tanpa pikir panjang lagi ku berjalan dari pasar senen,  yang ada dipikiran-ku hanyalah akan bertemu Mba Dee :D. Sekitar 8:14 aku sampai digedung BI, halangan tak sampai situ. Celakanya aku tidak tau pintu mana yang terbuka jadilah aku berkeliling gedung BI lagi, sampai pada pintu belakang yang terbuka itu. Dan rintangan kembali mendera, ternyata perpustakaan BI ada di gedung B yang letaknya ada didepan.

         Jadi sekali lagi aku berputar mengelilingi kompleks gedung BI. And Finally aku sampai juga digedung B dan langsung aku meluncur ke lantai dua letak perpustakaan BI. Dengan ragu aku masuk ke ruang perpustakaan yang hanya ada beberapa orang. Dan baru aku tahu yang ada disana ternyata para panitia dan Mba Dee :D aku salah masuk ruangan hahaha canggung aku melihat Mba Dee ingin menyapa tapi segan dan aku tau aku salah tempat, karena tempat peserta bukan disana hehe. Segera aku keluar dari ruangan dan berkumpul dengan peserta lainnya yang ada diseberang.  Sebelum acara berlangsung kita berfoto bersama :D Setelah acara foto The Coaching Is Begin!!!! Here my report for  you all semoga bermanfaat buat kita semua.  
Say Kejuu :D
         Acara Dee’s Coaching Clinic ini sifatnya lebih seperti sharing tentang hambatan-hambatan kita para pemula yang ingin menulis buku.  Mba Dee juga gak bawa materi kayak seminar/workshop tapi materi Mba dee berasal dari pertanyaan yang kita ajukan lewat email. Jadi sharingnya lebih asyik nah ini hasilnya. Maaf ya kalau ada kurang mungkin temen-temen yang ikut kemarin bisa nambahin :D

         Sebelum masuk ke teknik-tekniknya, kita harus tau dulu apa itu proses menulis kreatif?
Proses menulis kreatif ialah sesuatu yang bertujuan untuk menghibur dan berbagi pengalaman hidup manusia. Bentuknya bisa berupa prosa, puisi ataupun cerita fiksi.
Dalam pembuatan novel fiksi kita harus memperhatikan beberapa hal penting yaitu:

1. Kerangka Cerita
Sebenarnya apa sih kerangka cerita itu?? Kalo menurut Mba Dee sendiri beliau lebih suka bilang “Pemetaan Cerita” dari pada kerangka cerita. Contoh mudahnya kalau kita mau pergi dari pulau A ke pulau B yang jauh disana. Kita harus membuat peta dari pulau A ke B tersebut.


Fungsi dari peta tersebut ialah agar kita bisa lebih efisien dalam perjalanan baik secara waktu dan tenaga. Tidak ada kata membuang-buang waktu dan tenaga karena kita berputar jauh untuk ke pulau B tersebut atau malah tersesat. Nah fungsi dari “pemetaan Cerita” ini juga sama, agar kita tidak keluar dari inti cerita yang ingin kita buat. Kadang kita saking indahnya menulis kita sampai lupa pada inti cerita kita. Nah disini kita harus membuat terminal/inti cerita yang membuat tujuan cerita kita bisa tersampaikan dengan baik. Atau kita bisa membuat “Struktur 3 babak” yang fungsinya sama seperti pemetaan cerita. (lihat gambar ilustrasi 2)



Dalam “Struktur 3 Babak” ini kita mempunyai 3 bagian ;
a. Babak I sebagai  Tesis dimana pada babak ini kita menceritakan kehidupan tokoh saat belum terjadi konflik atau blm ada katalis(sesuatu yang membuat karakter/tokoh keluar dari zona nyaman-nya). Disini kita tumbuhkan calon-calon atau benih-benih konflik. Ingat baru calonnya lohh!!!
b. Babak II sebagai Antitesis pada bagian ini kita memberikan tamparan-tamparan (konflik) sehingga terjadi sesuatu yang besar terjadi pada tokoh. Pada Bagian II ini dibagi 2 karena di antithesis ini kita akan banyak menimbuklkan konflik-konflik kecil sampai konflik besar yang sebagai inti cerita. Pada Babak IIa kita berkan konflik-konflik kecil dan pada bagian Babak IIb sebuag konflik besar harus terjadi disini.
c. Babak III sebagai Sintesis dimana kita sampai pada ujung cerita dimana kita memberikan solusi dari konflik yang terjadi di antitesis. Atau disebut juga ending.

Okeh kayaknya terlalu panjang yah hehehe so tunggu part 2 nya yaaa kawan-kawin 


Comments