JANGAN PANGGIL AKU ITU!!


Sejak kecil kita sudah sering memanggil teman kita dengan nama panggilan yang tidak seharusnya, bahkan dulu saat saya masih Sekolah Dasar sangat populer memanggil nama teman dengan nama orang tua-nya (biasanya nama bapak yang di dapat dari bin yang sering tertera di belakang nama). Anehnya kita yang di pangil dengan nama orangtua kita akan marah, padahal memang betul itu adalah nama orang tua kita, lantas kenapa harus malu? Itu-pun masih menjadi misteri dalam hidup saya, karena saya salah satunya yang marah saat teman-teman mulai memanggil saya dengan nama bapak saya.

Selain nama panggilan orangtua, tak jarang nama binatang menjadi nama panggilan favorit untuk teman kita. Contohnya, tak perlu-lah ya disebutkan karena pastinya kita sudah tahu apa saja yang biasa di jadikan objek. Namun menurut saya yang paling parah adalah saat kita memanggil teman-teman kita dengan panggilan yang buruk, seperti kekurangan yang terlihat secara fisik atau bahkan karena kejadian-kejadian hal yang tak disangka. Seperti misalnya gendut, kurus, jelek, item/keling(hitam), keriting, pesek, sipit, pendek, jangkung dan banyak lagi panggilan yang lebih menyerupai ejekan.

Dan kalau kita telaah panggilan seperti itu termasuk kedalam bulliying, apa sih sebenarnya bulliying itu? Bulliying bisa diartikan sebagai salah satu bentuk dari perilaku agresi dengan kekuatan dominan pada perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang dengan tujuan mengganggu orang lain atau korban yang lebih lemah darinya. Nah bulliying ini bisa di kategorikan menjadi tiga :

1.   Bullying fisik, contohnya memukul, menjegal, mendorong, meninju, menghancurkan barang orang lain, mengancam secara fisik, memelototi, dan mencuri barang.

2.   Bullying psikologis, contohnya menyebarkan gosip, mengancam, gurauan yang mengolok-olok, secara sengaja mengisolasi seseorang, mendorong orang lain untuk mengasingkan seseorang secara soial, dan menghancurkan reputasi seseorang.

3.   Bullying verbal, contohnya menghina, menyindir, meneriaki dengan kasar, memanggil dengan julukan, keluarga, kecacatan, dan ketidakmampuan (Contoh : "Eh ada sih pincang lewat").

Memanggil orang lain dengan nama panggilan yang tidak seharusnya termasuk ke dalam bulliying verbal. Namun sayangnya anak-anak belum mengerti akan hal seperti ini, walaupun mungkin niatnya hanya bercanda, namun ada pula yang melakukan dengan cara sengaja untuk mendominasi.

Di Indonesia sendiri kasus bulliying akhir-akhir ini semakin meningkat, bahkan sampai ada korban hingga meninggal. Korban meninggalpun macam-macam ada yang pure hasil bulliying karena tindakan kekerasan atau malah yang lebih parah adalah dengan melakukan bunuh diri karena tindakan bulliying secara verbal yang dilakukan secara terus-menerus.

Dalam sebuah riset yang dilakukan LSM Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) pada tahun 2015 lalu menunjukkan fakta yang sangat miris terkait kekerasan anak di sekolah. Terdapat 84% anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah, bayangkan sudah 84% dan sudah terjadi. Berarti di sekolah bukan lagi menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Pengalaman saya sendiri-pun saat di sekolah saya termasuk menjadi korban bulliying di sekolah baik fisik, verbal hingga pelecehan seksual namun saya lebih memilih diam dan menumpahkan dalam buku diary. Beruntung saya bisa melampiaskan dalam sebuah tulisan, sehingga saya bisa sedikit terbantu melepaskan emosi. Namun lebih baik jika korban bulliying ini di tangani dengan baik agar tidak sampai terjadi keinginan untuk melakukan tindak bunuh diri.


Bukan hanya di Indonesia saja, di luar negeripun seperti negeri paman sam(Amerika) tidak luput dari kasus bulliying, bahkan sudah banyak film-film yang mengangkat tema tentang bulliying ini. Salah satunya adalah film serial netflix yaitu 13 reason why? Menceritakan tentang Hannah Baker seorang korban Bulliying yang melakukan tindakan bunuh diri dan menceritakan tiga belas alasan mengapa ia melakukan bunuh diri melalui kaset tape yang sudah ia rekam sebelum ia melakukan bunuh diri. Alasan terbesar ialah karena tindakan bulliying yang ia terima dan menjadi saksi atas tindakan bulliying. Dan satu lagi film luar yang baru saya tonton seminggu terakhir mengenai bulliying ini adalah Boys In The Trees, yang menceritakan tentang dua orang sahabat yang terpisah karena salah satunya menjadi salah satu geng tukang bully dan satunya menjadi korban. Dalam film tersebut menjelaskan apa yang di pikirkan para pembully yaitu sesuatu tentang hukum alam/rimba “Kau mau berkumpul dengan serigala, kau harus membunuh beberapa domba” dari kalimat tersebut menjelaskan bagaimana tokoh tukang bully menjelaskan bahwa membully adalah salah satu keharusan agar tetap bertahan menjadi orang terkuat diantara lainnya.

Dari kedua film itu saya sangat mendukung dengan adanya lembaga seperti LPSK (lembaga Perlindungan Saksi dan Korban)  yang didirikan serta bertanggung jawab untuk menangani pemberian perlindungan serta bantuanpada saksi dan korban. Karena memang bulliying ini bukan berdampak pada korban saja, tetapi pada saksi juga karena mungkin ia tidak tahu harus memberi tahu pada siapa, atau bahkan ia di ancam jika memberi tahu hal itu akan diperlakukan seperti itu juga bahkan bagi pelaku-pun berpengaruh terhadap mereka bisa menjadi trauma karena penyesalan atau bahkan sifatnya semakin memburuk karena di biarkan. Seperti yang dialami Hannah Baker dalam film 13 Reason Why, penyebab ia bunuh diri yaitu karena ia tidak tahan harus menyimpan rahasia bahwa temannya sudah di lecehkan, sedangkan orang-orang lain yang tahu hanya berdiam diri seakan tidak terjadi apa-apa. Namun ada pergolakan dalam dirinya, untuk memberi tahu kebenaran.


Ngomong-ngomonng soal nama panggilan alias ejekan, saya jadi teringat tentang pelajaran tentang teori cermin diri yang di paparkan Charles Horton Cooley saat pelajaran sosiologi kala itu. Yaitu teori tersebut menggambarkan suatu analogi perkembangan diri melalui cermin, di mana cermin memantulkan apa yang ada didepannya, dari sana seseorang melihat dirinya: tampan, cantik, perkasa, dan ramah. Terdapat tiga unsur dalam Looking Glass Self (cermin diri):

1.      Kita membayangkan bagaimana kita tampak bagi mereka di sekeliling kita. Sebagai contoh, kita dapat berpikir bahwa orang lain menganggap kita sebagai seorang peramah atau pemarah.

2.      Kita menafsirkan reaksi orang lain. Kita menarik kesimpulan bagaimana orang lain mengevaluasi kita. Apakah mereka menyukai kita karena kita seorang peramah?

3.      Kita mengembangkan suatu konsep-diri (self-concept). Cara kita menginterpretasikan reaksi orang lain terhadap kita, memberikan kita perasaan dan ide mengenai diri sendiri. Suatu refleksi diri yang menyenangkan dalam cermin diri sosial ini mengarah pada suatu konsep diri yang positif; suatu refleksi negative mengarah ke suatu konsep diri negative.

Dari teori tersebut saya mengakui, sebagian diri saya terbentuk dari apa yang mereka perbuat terhadap saya. Saat mereka sering mengatakan saya lemah, saya menjadi pribadi yang lemah. Dan secara perlahan saya tersugesti menjadi apa yang mereka katakan. Maka dari itu mari kita stop memanggil orang lain dengan panggilan yang tidak seharusnya, mari kita bimbing anak-anak kita agar bisa saling menghargai sesamanya.

“Don’t be a bully. Don’t even be a bully to the bullies, it just makes more bullies.”
-Robby Novak


Comments

  1. Bullying masih menjadi masalah utama di dalam pergaulan ya... suka sedih deh

    ReplyDelete
  2. Bullying masih menjadi masalah utama di dalam pergaulan ya... suka sedih deh

    ReplyDelete
  3. Bullying bisa menjadi trauma psikis bagi anak, yang bisa terasa hingga dewasa. Stop bullying dan berikan kenyamanan hidup bagi sesama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul kanop, kasian mereka para korban bulliying.

      Delete
  4. Bullying adalah salah satu kejahatan yang bisa membunuh diri pribadi korban. Harus ada pendekatan psikologi dari orang terdekat untuk memberikan pengarahan yang benar agar bullying tidak merajalela.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyya bunn, aplagi korban yang traumanya parah. sejak diri memang kita harus mengajarkan ke anak-anak agar tidak menjadi budaya.

      Delete
  5. Kita mah enak yang ngatain. Ga ngerti aja gimana rasanya... hikss... intropeksi deh.

    ReplyDelete
  6. Kepekaan sosial perlu ditanamkan dalam proses pendidikan sejak dini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul Pr banget nih untuk parents jaman now

      Delete
  7. Di kalangan anak sekolah dasar bulliying kadang dianggap sebagai candaan. Yang harus dilakukan orang tua mengarahkan bahwa bercanda adalah apabila keduanya sama-sama senang, jika tidak maka itu termasuk bullying

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyya betul banget, mungkin kalau sekedar bercandaan masih bisa di terima.

      Delete
  8. Efek bullying itu susah hilang. Yang lebih miris itu bullying yang dilakukan anggota keluarga terhadap salah satu anggota yang dianggap aib. Di lingkunganku ada yang kayak gini. Kasian banget pokoknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh serem ya mba kalau sama keluarga sendiri, nah entar dia ngadu sama siapa?

      Delete
  9. Bulliying biasanya berawal dari permasalahan pribadi yang tdk terselesaikan dg baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyya alassan para pembully sebagian karena seperti itu bang.

      Delete
  10. Saya saat ngajar les privat melarang keras bullying. Jd kalau ada yg melakukan saya persilakan belajar di luar. 🙁🙁

    ReplyDelete
  11. Semoga semakin banyak orang yang sadar bahwa bullying merupakan suatu kejahatan yang akan berdampak besar bagi korban.

    ReplyDelete
  12. waktu kecil sy sering bgt nih di bully..
    tp karna sy orgnya bodo amat, yg membully jd bisu sendiri cape sendiri, di indonesia sy rasa tingkat bullyingnya masih rendah ya, tp miris kebanyakan dr mereka bunuh diri, padahal ada kehidupan akhirat lebih sulit.
    org yg membully bisa jd karna kurangnya didikan ortu,
    bahaya jg buat mental mereka yg ga kuat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju kak nia. memang harus di cuekin aja ya, tapi terkadang ada yg malah makin menjadi.

      Delete
  13. Tugas sebagai seorang ibu sebagai madrasatul 'ula mendidik generasi penerus baik dari segi kecerdasan logika, kecerdasan emosional, dan terutama mengenai Akhlaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah betul, semoga para orangtua jaman now bisa lebih aware ya kak Irma

      Delete
  14. Dan anehnya bullyng dianggap cadaan yang wajar. Bully bukan hanya marak di kalangan anak-anak, bahkan di kalangan mahasiswa dan orang dewasa bully masih saja dianggap candaan yang dapat memcairkan suasana.

    ReplyDelete
  15. Dan anehnya bullyng dianggap cadaan yang wajar. Bully bukan hanya marak di kalangan anak-anak, bahkan di kalangan mahasiswa dan orang dewasa bully masih saja dianggap candaan yang dapat memcairkan suasana.

    ReplyDelete
  16. Duh, suka nasehati ke anak-anak, nggak boleh meledek, atau hal-hal berbau bullying. Terkadang dari orangtua yang memunculkan bullying. Seperti ikutan meledek anak kecil, "Botak sudah bangun ya?" itu juga bullying. Nah, yang kayak gini nih, suka bingung ngingetinnya. Hehejehe

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah disekolah anakku ada kakak angkat...atau dikenal.dengan buddy..., Adanya buddy meminimalkan buly di sekolah

    ReplyDelete
  18. Waktu SMP saya selalu di bully, semenjak ada provokator pindahan dari jakarta.

    Mulai di gasak, fitnah, bahkan pernah dipukuli pas lagi belajar, juga adu Bagong.

    Tapi ya gitu kalo ada masalah seperti dipukuli/berantem saya selalu disalahi sama guru.
    Bahkan ditampar berkali2 oleh kepala sekolah. Saya sempet mikir apa mungkin si guru dibayar sama si provokator itu, bahkan orang provokator itupun gak pernah ditindak apa2

    Sampai sekarang saya trauma, bahkan ada rasa takut jika masuk ke gedung sekolah itu

    ReplyDelete
  19. Seandainya kalo saya jadi guru jaman baheula, saya gampleng semua pelaku bullying. Terus disuruh keliling lapang sekolah 100x sambil buka baju

    ReplyDelete

Post a Comment