CERBUNG - Nayla Story Bagian 11 (Ours)


Joel sudah berada di depan pintu cafe tempat ia berjanji akan bertemu dengan Nayla, matanya mencari sosok itu. Dengan cepat ia bisa mengenali wanitanya itu walaupun saat ini ia memakai hijab.
Degg, tiba-tiba jantungnya terasa ngilu, sakitnya bukan main. Tubuhnya membatu saat melihat wanitanya tengah menggendong bayi kecil yang ia taksir belum lama lahir sekitar dua dua atau tiga bulanan. 

Nayla terlihat cekatan menggendong anak kecil itu. Apa jangan-jangan itu anak Nayla?? Dan laki-laki yang di dekat Nayla bukankah itu Rizki?? Mantan kekasihnya yang dulu meninggalkannya?? Jadi ia pergi meninggalkan dirinya untuk menikahi mantan kekasihnya itu? Joel membuat kesimpulan. Ohh lihatlah keluarga bahagia itu, mana mungkin ia tega merusaknya? Lagipula bukankah itu impian Nayla untuk menikahi laki-laki itu? Joel memutar tubuhnya dan meninggalkan cafe itu dengan penuh kekecewaan. 

*****

Nur?? Ada apa dia menelfon malam-malam seperti ini?? Ia baru ingat kalau di paris sekarang masih pagi sekitar jam tiga sore, perbedaannya hanya enam jam antar Indonesia dan Prancis. Ia segera mengangkat teleponnya di itu sebelum masuk ke kotak suara.

"Assalamualaikum kak Nay. Sudah bertemu Joel??" Tanya Nur tiba-tiba seperti seorang wartawan. Bagaimana bisa ia tahu aku akan bertemu dengan Joel hari ini?

"Waalaikumsalam Nur, kamu  kok tahu aku akan bertemu Joel??" 

"Tahulah, apa sih yang aku gak tau ahahaha" jawabnya riang.

"Belum, aku belum bertemu Joel" jawabku lemas.

"Loh kok belum?? Kak Nay sudah tahu kalau Joel jadi Muallaf?"

"Muallaf!??" seruku kaget dengan pernyataan yang baru dikatakan Nur. Nur lalu bercerita sebulan setelah kepergian aku dari Prancis Joel datang menemuinya dan meminta diajarkan tentang islam, Nur lalu mengenalkan Zulfikar untuk mengajarkannya. Dua minggu kemudian Joel Resmi menjadi muslim setelah mengucapkan dua syahadat di masjid (yang ada di prancis) disaksikan Nur, Zulfikar dan teman-teman kedutaan lainnya. Masya Allah, tak terasa aku mengeluarkan air mata bahagia dan haru setelah mendengar cerita Nur. Alhamdulillah Joel mendapatkan hidayah untuk memeluk islam.

"Kay Nayla, Joel ke Indonesia sebenarnya hanya untuk melamar Kakak" ujar Nur lagi. Tenggorokanku rasanya seperti tercekat oleh sesuatu sehingga aku tak bisa bernafas dengan baik. 

"Apa Nur?? Kamu nggak bercanda kan??"

"iyya serius kak"

Klik. 

Aku langsung mematikan handphoneku dan menghubungi nomer telepon Joel yang ia berikan dari email yang dikirim kemarin. Tak ada jawaban sama sekali. Ku coba menelpon hotel tempat Joel menginap, dan hasilnya nihil mereka mengatakan kalau Joel sedang keluar. Aku lihat jam setengah sepuluh, aku meminta Hasan kakak laki-lakiku untuk mengantar ke hotel tempat Joel menginap. Beruntung jalanan ibu kota sudah mulai sepi sehingga kami bisa dengan cepat sampai di hotel kawasan jalan sudirman tersebut. Tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung menghampiri resepsionis dan menanyakan Joel, tapi ia masih belum ada ditempat. 

Joel kau dimana??

"Nay, ini sudah malam. Tidak enak rasanya bertamu malam-malam seperti ini, besok pagi saja kita kembali lagi" Ujar Hasan, memang benar yang ia katakan. Tetapi hatiku mengatakan untuk tidak menundanya lagi.
"Nay mohon lima belas menit lagi Bang. Kalau dalam lima belas menit dia belum juga datang, kita pulang" Aku mememlas. Mata Hasan sudah terlihat merah, kasihan juga aku sebenarnya dengan Hasan.

Waktu rasanya bergulir sangat lambat, Aku dan Hasan menunggu di Lobby hotel mengambil tempat duduk yang menghadap ke pintu utama agar bisa melihat dengan jelas jika Joel sudah datang. 


*****
Taksi berwarna biru berhenti di depan Joel. Ia sudah meminta pihak hotel untuk memanggilkan Taksi untuk menjemputnya di masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut. Ia harus sudah mengikhlaskan Nayla, “Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” Joel teringat ayat tersebut, awalnya ia menjadi Muallaf memang karena Nayla, tetapi kini ia yakin menjadi muslim memang sudah jalannya dan memang seharusnya. Ia sangat mencintai agamanya ini, ia harus berterima kasih pada Nayla yang sudah membuatnya menjadi muslim. Kembali mendapatkan cahaya setelah kegelapan merundungnya bertahun-tahun.

Tak sampai sepuluh menit taksi sampai di hotel grand Sahid tempatnya menginap. Ia memutuskan akan kembali besok ke Prancis, ia sudah tak punya tujuan lagi disini.

"JOOEELLL" Panggil suara lembut yang dulu sering membangunkannya.

"Nayla?" Joel memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas bahwa suara itu benar-benar milik Nayla.


*****

"JOOEELL" teriakku begitu melihat pria yang laki-laki yang sejak tadi kutunggu muncul di pintu depan hotel. Aku tak mungkin bisa lupa wlaupun rambutnya kini di potong cepak dan jenggotnya ia biarkan tumbuh lebat di dagunya. Mata Joel yang berwarna Hazel itu sangat indah tertimpa cahaya lampu Hotel, dan aku sangat menyukai mata itu. Aku berlalri menghampirinya dengan sekuat tenaga walaupun lariku tak bebas karena gamis yang kupakai.

"hhhhaahh..Jooell..hhhhaahh.."aku terengah lalu mencoba mengatur nafasku agar kembali normal setelah setengah berlari untuk berada tepat di depannya saat ini. Joel melongo antara kaget dan bingung. Jarak Kami hanya satu meter sekarang.

"Akuuuhh mauuuhh jadiiihh makmum-muuuh selamanyaaahh Joelllhh" ujarku masih terengah-engah.

"Aaapaa?? bagaimana dengan anak dan suamimu Nay"

"Anak?? Suami??" giliran aku yang kaget dan bengong mendengar pernyataan Joel tersebut.

"Iii..iyya tatt...tadi aku melihatmu di cafe bersama mereka" rupanya Joel tadi sudah sampai di cafe dan melihatku saat sedang bersama Rizki.

"Ohh itu mereka bukan anak dan suamiku Joel"

"Tapi dia bukankah mantan kekasihmu?"

"Iyya memang, dan selamanya kan seperti itu. Karena aku sudah memilih imamku sendiri" ujarku dengan nafas yang sudah kembali normal. Mata Hazel itu berbinar terang, ada kelegaan dihatinya yang terpancar dari sana. Aku benar-benar ingin memeluknya saat ini dam aku rasa Joel juga merasakan hal yang sama. Aku bersiap menubruk Joel agar bisa berada dipelukannya, pelukan hangat yang selalu ia daatkan sebelum tidur.

"Eeett, belum muhrim" Hasan tiba-tiba sudah berada di tengah-tengah kami sehingga pelukan itu hanya angan-angan belaka. Kami tertawa bersama, malu hampir saja melakukan hal yang dilarang Allah.

-TAMAT-
-THE END-
-NAHTATIM-




Comments

Post a Comment