Puisi - Gadis rembulan...


Wajahnya bulat seperti purnama yang genap dihari ke tiga puluh.

Bersinar lembut, laiknya

Matanya yang jeli mampu memerangkap sesiapun yang melihatnya.

Suaranya semerdu gemerisik angin yang memainkan dedaunan dari dahannya.

Aishh jangan bilang aku kini tengah merayu.

Bagaimana aku akan merayu?

Bahkan ia rasanya takan pernah membaca sajak sederhana yang mungkin akan membuatnya tersipu atau tertunduk malu.

Biar saja bibir ini tak mengungkap rasa.

Namun ia akan lebih banyak memanjat doa.

Biar saja jemari ini tak mampu lagi merangkai kata.

Namun ia akan terus senantiasa, menuliskan namanya dalam asa.

Biar saja jiwa ini tersiksa.

Karna kalau jodoh takan kemana.

Jakarta, 14 Februari 2017

Comments

Post a Comment