Pagi yang sempurna



Betapa sempurnanya pagi ini, mentari tak seterik kemarin. Apalagi mendung tak mungkin ia menghampiri kini. Semuanya terlihat berbeda hari ini, aku bangun tepat jam lima dan mempersiapkan diriku untuk berangkat kerja dengan sebaiknya. Tak ada barang yang tertinggal, sarapan nasi goreng tak over asin ataupun hambar.

Mandi pun rasanya hari ini menjadi rekor terlamaku selama dua puluh lima tahun masa hidupku. Hampir lima belas menit aku dikamar mandi, menikmati aliran air yang begitu sejuk. Setiap sela-sela tubuh, kusapukan dengan sabun agar bersih. Sampai sekarangpun bisa kurasakan sisa parfum sabun yang menyeruak dari kulitku.

Satu lagu yang biasa kulewatkan jika terputar, kini malah kubiarkan ia menjadi backsound pagi yang damai ini.

Semuanya hening, padahal macet masih merayap. Biasanya, sudah bising oleh suara klakson bersautan oleh para pengendara yang tak sabaran.

Dugghhhh...
Tiba-tiba saja sebuah mobil dari gang depan melaju tanpa aba-aba. Aku terpelanting tiga meter saat mobil itu tepat menabrakku.
Semuanya seakan melambat, sempat kurasakan bagaimana rasanya melayang bagaikan burung terbang diudara.

Bebas.

Lalu ambruk ke aspal yang tak terasa menyakitkan.

Namun, aku tak mampu untuk berdiri kembali.

Aku tak mampu lagi, rasa lelah menggelayutiku. Nyaman rasanya berada diatas aspal, seperti berada dalam balutan selimut di ujung pekan.

Mataku mengerjap-ngerjap melihat semuanya yang melambat.

Apa ini rasanya mati dalam damai??
Semuanya kini memudar.
Putih.

Di kejauhan kudengar suara satu-satunya yang bisa kudengar.

Lagu yang selalu kulewatkan.

Takan selamanya....
Tanganku mendekapmu..
Takan selamanya....
Raga ini menjagamu..
Seperti alunan detak jantungku..
Tak bertahan melawan waktu..

Lalu senyap.




Comments

Post a Comment