I Can't Choose

Hai all...
Nie gue persembahin sedikit cerita yang gue buat tapi belum selesai karena ini novel bukan cerpen. jadinya bersambung-sambung deh kayak sinetron hehehehe... Sebenernya gue nggak tau mau ngasih apa judulnya tapi untuk sementara gue pilih ini aja ^^ Mohon kritik dan sarannya..


SATU
“Ya ampun…!!! Sekarang udah jam tujuh. Pasti kita telat nih” Seruku kaget begitu melihat jam kesayanganku sudah menunjukkan jam tujuh tepat tidak kurang tidak lebih. Aku dan Ine mempercepat langkah. Ajeng dan Lidya malah masih asyik mengobrol. Dari kejauhan aku dapat melihat anak-anak yang lain sedang berdiri di depan gerbang sekolah.

“Benerkan kita telat!!” sesalku.
“kamu sih Jeng!! lelet” aku sewot. Ajeng malah nyengir-nyengir kuda.
“Kapan lagi coba kita telat bareng? Lagian kayaknya banyak kok yang telat” jawab Ajeng cuek. Dengan setengah berlari kami menuju depan gerbang sekolah karena Mang Eep keamanan sekolah itu menyuruh kami berlari. Ini pertanda buruk karena Pak Kus kepala Sekolah yang super duper wonder killer ikut berpartisipasi menjaga gerbang sekolah, Pasti kita akan dihukum sangat berat.

Sekitar lima puluh orang yang telat, kami dikumpulkan di lapangan basket yang untungnya matahari masih malu-malu untuk keluar jadinya kita tidak perlu takut kepanasan. Pak Kus memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Barisan laki-laki dan perempuan saling berhadapan jadi kami dapat saling berhadapan, rasanya malu dilihat para cowok karena telat (walaupun mereka telat juga). Di depan kami Pak Kus dengan semangat menceramahi kami karena telat dia mengatakan bahwa telat adalah kesalahan yang paling besar bagi seorang pelajar dan bla..bla..bla...  aku tidak bisa mendengarkan lagi yang dibicarakan Pak Kus karena aku merasa terganggu oleh tatapan orang entah siapa yang aku tidak tahu, yang jelas aku merasakan ada seseorang yang menatapku (Kalian pasti tahu jika ada yang memperhatikan kalian secara diam-diam). Aku memberanikan diri untuk melihat siapa gerangan yang menatapku, pastinya dengan mudah aku dapat mengetahuinya karena mataku tidak minus. Yang paling penting aku berada dibarisan terdepan(entah kenapa aku selau berada dibarisan terdepan untuk saat-saat seperti ini).

Oh Tuhan…RIAN?? Aku pasti salah, tidak mungkin dia yang sedang memperhatikanku. Mungkin dia sedang memperhatikan Calista yang berada disampingku. Lagi pula bagaimana mungkin Seorang Rian yang sangat berwibawa saat berpidato di depan seluruh murid SMA Pelangi ini saat dia terpilih menjadi Ketua OSIS dan dengan kerennya dia memainkan drum saat pensi tahun lalu bersama Band-nya kini tengah memperhatikan aku. Aku tidak berani lagi menatap kedepan, aku langsung menjatuhkan pandanganku ke bawah, mengantisipasi kalau aku pingsan dan Salting stadium empat yang menyebabkan kekonyolan sepanjang masa (Karena pastinya aku akan melakukan hal konyol seperti kentut dengan keras hahaha bercanda…^^).

Aku mencoba rileks dan kembali fokus ke Pak Kus. Saat Pak Kus berhenti berbicara Rian maju kedepan dan berbicara sesuatu pada Pak Kus dengan sangat meyakinkan dan cool seperti Edward Cullen mengambil apel Bella yang jatuh (memang itu adegan yang kerenkan??). Sesekali Rian memandang kearahku sedangkan Pak Kus hanya manggut-manggut dan tidak lama kemudian Rian datang menghampiriku dan menarik lenganku dengan lembut mengajakku keluar dari barisan anak perempuan yang telat dan nggak berguna NGOK!!. Sungguh aku tidak tahu apa yang sedang terjadi sepertinya tubuhku memang ada disini tetapi tidak jiwaku (Waduh kok malah nyanyi). Tanganku masih digandeng Rian sampai didepan ruang OSIS, lalu ia membuka pintu ruang OSIS yang selau ia bawa karena memang itu hak Ketua OSIS.

“Ayo masuk” ajaknya denga suaranya yang lembut. For Your Info ini adalah pertama kalinya aku mendengar secara langsung suaranya dan itu ditujukan untukku, hanya untukku (Pastinya Karena memang tidaka tidak orang lain disini kecuali kita berdua).
“Ki…kita mau ngapain??” tanyaku tergugup.
“Nggak, kita pura-pura aja nglakuin sesuatu. Tadi aku bilang sam Pak Kus kalau kamu sama aku ketemu sama pihak management artis yang mau kita datengin ke Pensi bulan depan makannya kita telat dan sekarang kita harus ngambil surat pengajuan di ruang OSIS” Jelas Rian.
“Kamu Bohong??” tanyaku kaget mendengar penjelasan Rian, aku tidak percaya seorang ketua OSIS berbohong untuk menyelamatkan diri dari hukuman terlambat dan aku dibawa dalam kebohongannya. Aku sangat bingung apa yang harus aku lakukan, senang atau marah karena ia membawaku dalam kebohongannya tapi kalau dilihat dari sisi lain dia menyelamatkan aku.
“Nanti siang ada acara??” tanya Rian mengalihkan pembicaraan.
“Kayaknya ada deh, aku harus cari bahan untuk makalah biologiku” bohongku.
“Oh..yaudah, tadinya aku mau ngajak kamu nonton” Rian tampak kecewa.
“Aku kira kamu sibuk buat acara pensi besok”
“Hahahaha…sekali-sekali refreshing nggak apa-apa kan??” Rian tertawa ringan. Aku hanya tersenyum.
“A..aku mau kekelas dulu ya! Thanks udah nolongin. Tapi lain kali kayaknya nggak perlu deh” ujarkku lalu meninggalkan Rian sendirian. Aku tidak mau terbawa perasaan yang telah telah ku kubur dalam-dalam. Dulu memang aku sempat menyukainya tapi sudah lama aku melupakannya.
Aku masih ingat waktu itu kami sempat dekat saat masa-masa MOS, aku juga tidak tahu kenapa kami bisa dekat.Tapi setelah MOS kita seperti lost contact  karena kelasnya berada dilantai satu dan aku dilantai dua (dia memang pintar jadinya dia masuk kelas unggulan sedangkan aku kelas pojok yang mayoritas anaknya bisa dibilang kurang pintar tapi walaupun aku ada dikelas pojok aku tidak merasa kurang pintar hahahaha karena tidak ada yang menganggap dirinya bodoh iya kan).

Sesampainya dikelas yang sepi karena hampir separuhnya telat termasuk aku kalau aku tidak diselamatkan Rian. Untung Pak Arfan tidak menanyakan aku dari mana. Karena tiba-tiba hatiku sangat kacau ditambah lagi sekarang jam pelajaran Matematika yang selama dua jam kedepan aku akan tersiksa oleh angka-angka yang membuatku gila. AKU BENCI MATEMATIKA, kenapa harus ada pelajaran matematika??

Comments