Pesan Terakhir



“Brugh… Brugh… Brugh… Brugh…!!” suara sepatu pentovel yang kami pukulkan dengan keras ke tanah menggetarkan bumi, seakan-akan  segerombolan pasukan kuda yang siap menerjang musuhnya didepan. Suaranya bergemuruh keseluruh alam raya, membuat ratusan pasang mata tercengang akan gerakan kami yang serentak, kompak, anggun tapi gagah.
Pengorbanan waktu yang kami relakan pagi siang sore bahkan malam selama tiga bulan lebih dua minggu kini tidak sia-sia. Inilah saat-nya kami menampilkan yang terbaik dari hasil latihan kami mati-matian dengan berteman letih, bersahabat dengan teriknya sang matahari yang membakar kulit dan keringat yang senantiasa membasahi baju kami kini sudah terobati oleh rasa bangga bercampur bahagia tertanam dihati kami. Sekarang kami sudah berada diatas lapangan pertempuran yang kami yakin dapat memenangkannya.
Aku berada dalam pasukan dua, maju meneruskan perjuangan teman-temanku yang lain. Kemenangan kami semua ada ditangan kami bertiga. Aku dan kedua temanku seperjuangan yang tepat berada disamping kanan dan kiriku, berdo’a sebelum memulai ritual pengibaran bendera yang bagi kami sangat sakral dan menegangkan. Kami bertiga berjalan dengan gagah ketengah lapangan menuju tiang tertinggi tempat sang merah-putih akan berkibar dengan anggun.
Dengan perasaan sangat  bangga yang tak dapat kulukiskan dengan kata-kata, kini aku membawa sang merah-putih. Kami berhenti didepan tiang bendera yang tinggi. Ziad yang berada disebelah kananku mengikatkan tali bendera ke tali tiang bendera. Riko yang berada disamping kiriku menarik dengan perlahan tali tiang bendera di iringi lagu Indonesia raya yang dinyanyikan oleh tim paduan suara dan setiap orang yang menghadiri upacara pengibaran bendera tujuh belas agustus tahun ini dengan hormat dan hikmad untuk mengantar sang bendera menuju tempat tertinggi. 

Setelah sang merah-putih berada di ujung tiang di ikuti dengan berhentinya lagu Indonesia raya kami kembali kebarisan dan kami segera meninggalkan lapangan upacara.
 
 “Brugh… Brugh… Brugh… Brugh…!!” suara sepatu pentovel yang kami pukulkan dengan keras ke tanah kembali menggetarkan bumi. Setelah jauh sang komandan, menginstruksikan kami untuk berhenti dan tangisan  haru dan bangga yang sejak tadi kami tahan meledak tak tertahankan lagi. 

Kami saling berpelukan, bangga akan keberhasilan kami menjadi PASKIBRA terbaik. Diantara teman-temanku yang sedang mengis kulihat sama-samar Ana sahabat terbaikku sedang berdiri menghadapku dan tersenyum manis padaku seyumannya seakan mengatakan ia sangat bangga padaku, kukejar sosok Ana yang menjauh.
  
*******

Hari ini ada pengukuhan PASKIBRA. Sudah dua bulan tiga belas hari kami berlatih bersama teman-temanku. Dari tujuh puluh tujuh orang, akan diseleksi menjadi tujuh belas orang untuk upacara pengibaran bendera tujuh belas Agustus. Kami semua dikumpulkan dilapangan basket, keringat masih membanjiri kaos kami, bau hangus karet sepatu yang terus bergesekkan dengan jalan aspal membuat hati kami tersa resah. Hati kami berdebar-debar menunggu pengumuman siapakah yang akan tereleminasi, masing-masing  kami berdo’a dalam hati berharap nama-nama yang disebutkan bukan nama kami. Nyamuk-nyamuk kebun yang sudah menunggu kami dari tadi kini tengah berpesta pora, menghisap darah kami dengan penuh nafsu karena kami tidak menghiraukan gangguan dari mereka. Yang ada di otak kami saat ini hanyalah berdo’a dan berharap agar tidak tereleminasi.
“Kakak harap, nama-nama yang kakak sebutkan maju kedepan!” ujar kakak senior kami bersiap membacakan nama-nama yang akan tereleminasi. Kami makin dalam berdo’a, menundukkan kepala antara berdo’a dan takut jikalau nama kami terpanggil.
“Ika, Rumi, Dani, Hiro, Wahyu, Agus, Andi, Vira, Rohim, dan Siska!”
Benarkah ini? Aku yakin itu hanya perasaanku saja. Aku membohongi hatiku. Jelas sekali tadi aku mendengar namaku disebutkan. 

Aku maju dengan kaki gemetar, lemas seakan tulangku menyusut. Tak kurasakan tulang menopang tubuhku lagi. Air mata kutahan sekuatnya, aku tak mau terlihat cengeng. Aku harus kuat, aku harus tegar. Lagi pula kakak senior tadi memanggil sepuluh nama, mungkin saja aku akan jadi komandan kelompok.
         “Dani, Hiro dan Andi, pindah kesamping kiri saya” ujar kak Ina instruktur kami.
        “Dani komandan kelompok satu, Hiro komandan kelompok dua, dan Andi komandan kelompok tiga. 

Kalian harus mempersiapkan diri kalian lebih matang karena kalian komandan-nya sekarang. Silahkan kalian bertiga boleh kembali ketempat” tambahnya.
            “Sisanya, ikut kakak kebelakang” perintah kak Ina sambil mengiring kami ke belakang gedung sekolah. Disana kami di beritahu bahwa kami tereleminasi karena sedikit kekurangan.
            “Santai aja, walaupun kalian tereleminasi. Kalian bisa kok jadi perangakat upacara. Kaya komandan upacara, atau drijen” hibur kak Ina, tapi itu tak menghibur hati ku sama sekali. Teman-temanku memilih menjadi perangkat upacara tapi aku lebih memilih menjadi cadangan karena sudah merasa putus asa.
*******
            Setibanya aku dirumah, aku langsung berlari kekamarku dan membanting tubuhku ke atas kasurku dan menangis menumpahkan air mata yang sejak tadi kutahan.
            “Na, aku dieleminasi Na! seharusnya aku nggak mencalonkan diri aku untuk menjadi PASKIBRA, aku harusnya nyadar kalau aku pendek. Aku nggak pantes” aku menumpahkan semua unek-unekku begitu Ana megangkat teleponnya.
            “Nggak Sis, aku yakin  pasti kamu bisa, dan kamu juga tadi milih jadi cadangan. Kamu berdo’a aja semoga pas hari H-nya ada yanga nggak hadir ” Ana menenangkanku. Aku tahu pasti Ana merasa bersalah karena dialah yang memaksaku untuk ikut PASKIBRA. Padahal saat itu aku enggan untuk ikut karena menyadari kekuranganku.
            “PASKIBRA itu, nggak harus tinggi, yang penting kemampuan PBB-nya. Aku tahu kamu PBB-nya bagus” ujar Ana saat itu yang membuatku bersemangat dengan dorongannya lah aku berani mencalonkan diri dan aku selalu rajin berangkat latihan bersamanya.
*******
            Pagi-pagi sekali aku sudah berada dilapangan sekolah untuk acara pengibaran bendera merah-putih, kulihat teman-teman seperjuanganku dulu sesama tim PASKIBRA tengah sibuk memakai seragam putih-putihnya seragam yang aku idam-idamkan. Tapi itu hanya impian belaka kini aku disini atas permintaan Ana sahabatku, ia memintaku menemaninya sebelum tampil karena ia sangat gugup. Ana sangat beruntung, ia menjadi pembawa bendera merah-putih. Kemarin saat gladi resik, Ana tidak datang karena tiba-tiba ia demam, lalu aku diminta untuk menggantikannya untuk gladi resik kemarin. Tapi ia akan datang hari ini untuk penampilannya yang telah ia tunggu cukup lama.
            Sudah pukul enam pagi, Ana masih belum datang juga. Sedangakan upacara akan dimulai setengah jam lagi. Aku dan yang lainnya cemas menuggu kedatanganya. Dari kejauhan aku melihat ibu Ana yang datang dengan tergopoh-gopoh. Aku berlari menghampirinya. Kulihat air bening keperakkan mengallir dari kedua belah matanya. Ia memberikan bungkusan yang berisi seragan PASKIBRA milik Ana.
             “Sis, Ana kecelakaan saat mau berangkat tadi dia meninggal ditempat Sis!” ujar Ibu Ana terbata-bata. 
            “Sebelum dia meninggal Ana bilang kalau Dia mau kamu menggantikannya” lanjut Ibu Ana. Aku shock mendengar kabar dari Ibu Ana, tak mungkin Ana meninggal secepat itu. Rasanya baru semalam Ana menelponku untuk memintaku datang hari ini untuk menemaninya.
            Ibu Ana pamit untuk mempersiapkan pemakaman Ana, aku masih mematung berdiri ditempatku. Aku ingin sekali melihat jasad sahabatku. Menemaninya sebelum dimasukkan kedalam liang lahat yang gelap. Tapi pesan terakhirnya yang menahanku untuk pergi, aku tak mungkin mengabaikan pesan terakhirnya. Ini amanahnya yang ia berikan untukku, aku akan membuatnya bangga. Aku tidak akan membuatnya kecewa. Segeraku berganti pakaian untuk menggantikan Ana. Ku kuatkan diri untuk tak menagis.
            “Aku nggak akan buat kecewa kamu Na!” janjiku dalam hati.
*******
            Aku berlari menuju pemakaman tanpa melepas seragam putih-putih PASKIBRA. Aku tak peduli dengan tatapan aneh dari orang yang melihatku. Yang ada di benakku saat ini hanyalah Ana. Aku ingin melihat wajah terakhir Ana sebelum di kebumikan.
            Aku terlambat. Tanah merah Itu masih basah dan bertaburkan kembang tujuh rupa. Di papan kayu itu tertulis namamu  Na. Di dalam lubang itu kini engkau berada. Aku tak percaya engkau telah pergi mendahuluiku. Bukannya kamu sudah berjanji kita akan pergi berlibur ke pantai liburan semester ini? 
            “Na, kamu tadi lihat aku kan? Aku yakin kamu nggak kecewa sama aku! Thanks banget Na, kamu pahlawan aku. Kamulah sahabat terbaik yang aku punya dalam hidup aku. Thanks a lot for all!!” ujarku pada tanah merah dimana sekarang tempat tubuh Ana terbaring dengan damai. Perlahan aku meninggalkan kuburan Ana yang tetap membisu. Aku kan selalu mengingatmu Na!

Comments