THIRD - BAB 1 (Part 3)



 

“Assalamualaikum” 
Tak ada jawaban. Apa ayah sedang pergi? tapi pintu nggak dikunci. Kulihat ayahku sedang menonton tv di ruang tengah. Matanya tapi terlihat kosong, malah seperti tv yang sedang menontonnya. Aku hempaskan tubuhku disampingnya. Aku mencoba meneliti apa yang terjadi lagi saat ini? Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Benar saja apa yang aku pikirkan, aku melihat sebuah undangan pernikahan bertuliskan nama ibuku disana. Ternyata benar ibu akan menikah lagi dengan selingkuhannya yang ia temui lewat facebook itu. Seketika darahku mendidih melihat undangan pernikahan itu. ku ambil Undangan pernikahan Ibu dan ku buang ke tong sampah di dapur, ayah tak berkutik dengan gerakan yang cepat. Aku tahu saat ini pasti perasaan ayah sangat kacau. Perceraiannya dengan ibu tahun lalu benar-benar membuat Ayah kehilangan arah. Ia lebih banyak diam dan mengururung diri di rumah.
                Dan aku benar-benar membencinya karena itu, yang lebih konyol lagi adalah ibuku akan menikahi orang yang baru ia kenal lewat social media itu. bagaimana bisa seseorang yang telah menikah berpuluh-puluh tahun lalu berpisah karena salah satu dari mereka bertemu dengan orang di dunia maya yang kemudian dianggap belahan jiwanya. Rasanya aku ingin mengutuk mark zuckerburg yang telah menciptakan facebook karena ia telah berhasil menghancurkan kehidupan keluargaku.
                Aku memeluk ayahku yang masih belum bisa berkata-kata. Aku merasakan kepedihan dalam hatinya, matanya jelas menyiratkan kehancuran. Tapi yang aku heran ia tak pernah memperlihatkan kebenciannya pada Ibu. Oh ayah mengapa kau hancurkan dirimu sendiri, begitu besarkah cintamu pada ibu.? Sehingga kau tak bisa menbencinya.
                Aku tak akan membiarkan air matamu kembali jatuh seperti saat siding perceraian hari itu yah, aku tak akan membuatmu meneteskan air mata itu aku berjanji



Jam setengah tujuh pas. Mataku mencari-cari dengan teliti setiap senti yang ada kawasan halte transJakarta ini dengan sekasama. Secara tak sadar aku mencari sosok pria arab kemarin yang mengaku bernama Tariq, Tariq Al-Faruq! Ya ampun bahkan aku bisa ingat nama panjangnya. Bagaimana aku tak ingat kemarin kan dia berteriak seperti orang gila diujung jalan. Ada rasa kecewa saat tak menemukan sosok tinggi besar hitam itu ehh, salah itu sih genderuwo. Maksudku sosok tinggi dengan jambul, seperti       
kubah masjid ditambah lagi, dengan senyum berlesung pipit nan manis dan ditambah lagi hidung mancung bagaikan menara burj khalifa. Ah yasudahlah, lagi pula kenapa aku tiba-tiba mencari orang gila itu ditengah ribuan manusia di kota sebesar ini? Apalagi Tariq bilang ia kesana hanya karena motornya rusak, jadi mana mungkin ia akan naik transjakarta lagi?
                Beruntung sekali hari ini busway tidak ngaret seperti biasanya, jadi aku bisa pulang agak cepat.  Dengan perlahan aku dan warga Jakarta lainnya memasuki transjakarta yang masih kosong itu, saat tiba di pintu masuk Transjakarta aku sempat menegok ke belakang berharap Tariq ada diantara kerumunan orang-orang itu. tapi nihil hasilnya. 

sumber gambar : http://www.peacefulharmony.co.uk/wellbeing-counselling/how-do-men-deal-with-bereavement/
#ODOP #FebruariMembara #HariKeempat

Comments