CERBUNG - Nayla Story Bagian 7 (Night On Bataclan)


Petugas medis membawa Joel ke dalam ruang unit gawat darurat. Aku tak di izinkan ikut bersamanya masuk kesana. Aku duduk sendirian di ruang tunggu, dari televisi yang berada ditengah ruangan itu di siarkan suasana bataclan yang porak poranda. Teroris menyerang paris, begitu judul berita yang ada dibawahnya. Ternyata bukan hanya di Bataclan yang diserang cafe dekat stadion juga diserang, bahkan bom bunuh diri di beberapa titik.

Badanku  kembali mengigil mengingat-ingat kejadian beberapa menit yang lalu. Detik-detik saat baku tembak dan darah dimana-mana. Pakaianku masih berlumur darah joel dan entah darah siapa lagi.

Handphoneku berdering? Dengan cepat kugeser layar handphoneku untuk menerima panggilan itu.

"Assalamualaikum kak Nayla" sebuah suara dari sebrang sana.

"Waalaikumsalam Nur" jawabku lemah. Aku sepertinya sudah tak punya tenaga lagi.

"Kakak dimana??" Tanyanya terdengar ia sangat cemas, Nur tahu aku pergi ke Bataclan hari ini.

"Di rumah sakit Nur"

"Oke, kakak tunggu yah aku kesana sekarang" ujarnya lalu memutuskan panggilannya.

Nur datang dua puluh menit kemudian. Ia membawakan aku pakaian. Sayangnya pakaiannya tak pas denganku, bukan ukurannya. Tapi modelnya yang tak pas seperti yang biasa kupakai. Ia membawakan aku pakaian kurung panjang, khas pakaian yang sering ia pakai sebagai muslimah sejati yang selalu menutup tubuhnya dengan rapat. 

"Maaf ya kak, cuma itu pakaian yang aku punya" ia meminta maaf, begitu aku membuka pakaian yang ia bawakan.

"Nggak apa-apa, bajunya bagus kok" aku mencoba tersenyum.

"Yaudah kakak mandi dulu terus ganti baju yah, biar lebih fresh" 

Nur membantuku menuju kamar mandi rumah sakit yang ada diujung lorong, kakiku masih terasa lemas. Beruntung sekali mempunyai teman seperti Nur, rasanya jadi rindu rumah. Disaat-saat seperti ini ada kalanya sangat rindu dengan kampung halaman. Aku rindu ibu rindu adikku Andin.

Air hangat yang keluar dari shower tak membuatku tenang seperti biasanya. aku jatuh tersimpuh dilantai kamar mandi, tangisku kembali pecah tak tertahankan. Darah yang mengering dari pakaianku luntur terkena air dan menjadikan warna merah pada air yang mengalir ke lubang pembuangan.

***

Petugas ataupun dokter belum ada yang memberitahu bagaimana keadaan Joel di dalam sana, yang kutahu Joel sudah dipindahkan ke ruang operasi untuk mengambil dua peluru yang bersarang di punggungnya. Dan itu bukan berita bagus sama sekali.

Sudah dua jam Joel di ruang operasi, tapi belum ada tanda-tanda  opersi akan selesai. Pikiran buruk kembali memenuhi kepalaku. Kalut dan takut menjadi satu, Nur membiarkan tangisku pecah di pundaknya, sampai aku tertidur dipangkuanya.

****

"Kak, kak Nayla" Nur membangunkan nayla yang tertiddur dipangkuannya sejak semalam. Ia sangat kasihan pada Nayla kakak kelasnya itu. Pasti berat rasanya mendapat cobaan seperti yang Nayla alami. 

Berada ditempat kejadian yang mengerikan, bahkan dalam mimpinya sekalipun Nur tidak akan mau berada dalam kejadian berdarah seperti kejadian yang dialami Kemarin oleh Nayla, dari televisi saja ia bergidik ngeri saat melihat berita yang disiarkan langsung di televisi.

Kejadian buruk yang kembali mencoreng nama baik agamanya dan entah kenapa agamanya kembali yang selalu dikambing hitamkan saat terjadi kejadian seperti ini. Nayla terbangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Nur sebenarnya tak enak untuk membangunkan Nayla. Namun ada kewajiban yang harus ia lakukan saat ini juga.

"Maaf kak Nay, aku mau shalat subuh dulu" Nur segera bangkit dari tempat duduknya.

"Nur tunggu, aku juga mau shalat" Nayla ikut menyusul dibelakangnya. 

'Masya Allah kak Nay' bisik Nur dalam hati. Ia tahu betul Nayla, sejak lama Nayla sudah lupa untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk shalat. 

Ia sering mengingatkan dengan lembut agar ia tak sakit hati, namun hati Nayla sepertinya sudah tertutup untuk berjalan kembali ke jalan Allah. Ia begitu terlena dengan kehidupan di Paris.

Terlebih lagi hidup di negara yang muslim sebagai kaum minoritas membuat sulit untuk melakukan ibadah. Karena sangat suah sekali mencari masjid apalagi mushalla, tidak seperti d Indonesia. Disetiap dua pukul meter bisa kita jumpai masjid atau mushalla.

Wajah Nur sumringah mendengar Nayla ingin ikut shalat. Alhamdulillah akhirnya engkau memberikan hidayah kepada saudariku ini ya Allah. 

Kebetulan sekali Nur membawa dua mukena di tasnya, sebenarnya mukena yang satunya adalah milik teman sekamarnya yang di minta untuk dibawakan karena saat itu tertinggal di kantor kedutaan, dan ia lupa belum mengembalikannya. Dengan senang hati Nur menggandeng lengan Nayla.

#onedayonepost

Comments

Post a Comment