PUISI - Dikala hujan

Malam ini memang tak akan berbintang, tapi mereka ada disana tertutup awan.
Seraya mengamini setiap do'a yang dipanjatkan sang awam.

Menekuri hati yang tak bermimpi, dikala tenggelam dalam ilusi.

Saat matamu terlelap, yang ada hanya gelap yang pekat.

Ujung-ujung matamu mencari-cari, kalau saja ada bayang yang bersembunyi dalam gelap.

Wangi hujan dikala senja, bercampur aroma asap dari kayu cendana yang telah menjadi arang.

Seketika langit merah seperti terbakar tungku api ibumu.

Awan-awan yang berarak menjauh keutara, entah esok akankah masih ada, atau sudah kembali lagi menjadi sisa-sisa air yang merembesi tanah.

Gemuruh mesin kendaraan yang mengamuk-ngamuk liar, berlomba dengan gemericik hujan.

Yang kutahu kau masih disana, diam menunggu sesuatu yang takan datang.

Dalam tirai hujan yang semakin menderai.

Jakarta, 5 Desember 2016

Comments

Post a Comment