Puisi - Gadis Senja




Tadi sore hujan.

Derasnya membentengi sesiapapun yang hendak keluar.

Gadis senja ikut meratapi langit.

Langit yang yang tak kunjung reda memberikan bulir-bulir air yang membasahi bumi.

Dalam diamnya ia mencumbui bayang kekasih yang hilang.

Hilang dari genggaman dunianya.

Langitnya runtuh, puing-puingnya menjatuhi tubuhnya hingga ia tenggelam dalam runtuhan itu.

Tak bisa bergerak.

Tak bisa bernafas.

Rintihan kecilnya tak didengar sesiapapun.

Matanya nanar memandangi langit jingga diatasnya.

Terperangkap disana ia bersama puing langitnya.

Ia tak mati.

Tak pula hidup.

Pikirannya melayang kelangit jingga diatasnya.

Ingin kembali kemasa kecilnya.

Yang menatap langit jingga dengan takjub.

Menanti datangnya naga yang bersembunyi di baliknya.

Sambil bermain-main kubangan air yang memantulkan langit jingga diatasnya.

Seakan ia kini berada diangkasa dan mengambang diantaranya.

Namun kini ia kembali ke nyatanya.

Dimana ia bukan gadis kecil penunggu senja yang bahagia.

Ia telah menjelma menjadi gadis dewasa.

Serta-merta mengutuki dirinya yang telah menjadi dewasa.

Menanggung segala konsekuensinya.

Merasakan penderitaan tersiksa oleh sebuah rasa.

Langit jingga kini telah memudar.

Menjadi pendaran yang gulita.

Hatinya berbisik lirih.

Menyebut nama yang selalu terselip di dalam doanya.

Kaca di jendelanya berembun oleh nafasnya yang ia hela berkali-kali untuk mementaskan sesak yang di dada.

Namun tak ada guna.

Ia hanya butuh bayang tegap yang selalu datang diujung senjanya.

Bayang yang akan membuatnya bangkit dari tempat duduknya.

Lalu berlari.

Menghambur ke pelukannya yang senyaman selimut beludru.

Menghirup aroma yang tak ada dua.

Mendengar suara yang selalu mengatakan "kita akan baik-baik saja"

Ya kini ia hanya butuh suara itu.

Suara yang akan mengatakan kalimat yang menenangkannya.

Tangerang, 22 Januari 2017

Comments

  1. Weh...jangankan dia. Aku juga selalu butuh kalimat-kalimat yang menenangkan jiwa.. Hehehe..

    ReplyDelete
  2. Kereeen Mas iaaan...

    Puk.. Puk..

    ReplyDelete
  3. Kita akan baik-baik saja.
    Ya ampun.. Suka banget kalimat ini.
    Keren, Mas. Keren. 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Alhamdulillah yang masternya suka 😀😀😀😍

      Delete

Post a Comment