Cerbung - Back To



"Brakkk" bangku meja makan terjengkang ke belakang. Aku yang sengaja membantingnya. Entah setan mana yang hinggap ke dalam diriku hingga aku mempunyai keberanian untuk membanting kursi itu di depan kedua orang tuaku. Ayah dan ibu yang duduk di seberang kaget tak percaya aku melakukan itu.

"Cukup pah...!!!! Cukup papah ngdikte Juna terus.." Teriakku kalap.

"Juna sudah dewasa!! Juna tau mana yang terbaik untuk Juna sendiri..!!" ujarku kembali setengah berteriak lalu pergi meninggalkan ruang makan dan berlari keluar rumah. Entah mau kemana kaki ini akan melangkah, yang ada dihatiku hanyalah ingin pergi dari rumah dan tak melihat wajah ayah yang terasa begitu menyebalkan.

Aku benci Ayah yang selalu mendikte apa yang harus di lakukan. Aku bukan lagilah lagi seorang anak kecil yang tak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Aku muak dengan permintaan ayah sang satu ini untuk memasukkanku ku ke perguruan tinggi fakultas hukum, ia ingin aku menjadi pengacara. Dan aku benar-benar tidak mau masuk ke dalamnya. Karena itu bukan cita-citaku, bukan keinginan yang timbul dalam hatiku. Aku hanya meminta untuk yang satu ini biarkan aku yang memutuskan. Namun Ayah selalu menolak saat aku bilang ingin ke fakultas seni.

Ia selalu bilang seni hanya untuk Orang-orang malas. Dan tidak memiliki masa depan yang jelas. Maka jiwaku saat ini berontak, aku tidak tak peduli lagi dengan kata Ayah. Ibu-pun tak bisa berbuat apa-apa untuk merubah keyakinan ayahku agar mau menuruti kemauanku untuk mengambil seni. Sesaat sebelum aku keluar kulihat Ibu menangis, maafkan anakmu ibu jika menyakitimu hari ini Bisikku lirih dalam hati.

"Dukk" sebuah bola yang keras melayang mengenai tepat keatas kepalaku. Aku terhuyung ke depan sambil memegangi kepalaku yang tiba-tiba terasa berat dan pening. Semuanya berubah menjadi gelap gulita dan sunyi. 

*****

"Waduh mati nih anak orang" seru salah satu orang yang tengah mengoleskan minyak angin ke hidungku. Aku mengerjap-ngerjapkan kedua mata yang terasa berat, cahaya yang masuk tiba-tiba membuat mataku sakit.

"weh..weh..weh dia bangun tuh" sebuah suara lainnya kembali menyauti.

"Alhamdulillah, ternyata dia kagak jadi mati.." ujar suara pertama tadi. Aku memegangi kepalaku yang masih terasa nyut-nyuttan. 

"Ehh kamu nggak kenapa-kenapa kan??" tanya anak laki-laki di depanku, umurnya sepertinya sepantaran denganku. Ia membantuku bangun dari beton taman yang keras.

"Emmhh, iyya saya nggak kenapa-kenapa kok" jawabku lemas.

"Maaf ya itu bolanya tadi kena kepala" ujarnya menyesal diikuti teman-temannya yang lain mengerubutiku. Ada dua orang yang berdiri mengelilingiku, satu orang yang yang meminta maaf tadi wajahnya terlihat familiar. Dan ternyata orang disebelahnya juga mempunyai wajah yang sama. Apa kepalaku terbentur ke beton terlalu keras hingga wajah mereka terlihat sama.

"Kita emang kembar kok, nggak usah bingung gitu" ujar anak laki-laki di depanku seperti tau apa yang ada di benakku.

"Saya Aldi dan ini Aldo adik saya, cuma beda satu menit kok keluarnya" ia memperkenalkan dirinya dan saudara kembarnya.

"Saya Juni.." ujarku menjabat tangan kedua anak kembar itu.

"Anak baru ya disini..?" tanya Aldo yang terlihat lebih dewasa dari Aldi walaupun mereka kembar, terlihat dari cara mereka berbicara.

"Nggak kok saya lahir disini rumah saya disann...." aku tak melanjutkan ucapanku. Mataku terbelalak melihat semua yang ada di depanku menjadi berbeda. 

 

Comments

Post a Comment