(Bukan) Seperti Jumat Biasanya


Hari ini seperti hari jumat biasanya. Tak ada yang spesial sama sekali, langit terik seperti biasa di bulan mei. Tapi bisa saja itu pertanda, nanti sore akan hujan lebat. Tiada yang bisa memprediksi.

Terlebih lagi menurut orang barat sana, yang mengatakan bumi telah sekarat. Global warming kata mereka, bumi akan segera musnah. Kenapa pula kita menjadi gelisah?? Bukankah kita-kita pula yang merong-rong bumi. Memeras setiap inci, memagar-magari sehingga menjadi milik pribadi, mengerayangi tanpa peduli ia tersakiti.

Tak merasa?? Biar saja bumi kini marah. Atau sebaliknya, bumi tak marah. Namun ia telah mati, berhenti pulalah kita yang mendiami.

Kenapa perlu risih?? Ini bukankah sebuah konsekuensi?? Ahh sudahlah aku tak mau terlalu pusing memikirkan bumi atau tetek bengeknya.

Biar orang-orang barat sana yang memikirkannya. Toh urusan mati hanya Ditangan-Nya. Tak ada pula hubungannya dengan pemanasan gombal dan semacamnya.

Lihat saja jalanan di depanku ini semakin harinya semakin padat. Macet! Kali ini stuck, sepeda motor yang biasanya bisa menyalip kanan-kiri layaknya ular. Kini hanya bisa berdiam diri, menunggu. Sesekali berdiri memanjangkan leher mereka untuk melihat hal apa yang menyebabkan kemacetan seperti ini. Aku tak tertarik untuk menjulurkan leherku, toh pasti tak akan terlihat sama sekali. Deruan suara mesin motor dan mobil seperti harmoni yang begitu buruk. Apalagi asap-asap yang dikeluarkan kenalpot, benar-benar menyesakkan. Mual!.

Aku sekilas melihat jam di handphone, sudah menunjukkan pukul lima belas lewat lima belas. Sudah waktunya ashar, tapi tak kudengar suara azan sama sekali. Apa daerah perkantoran ini tak mempunyai masjid? Aneh!

Seketika mataku membelalak melihat keatas langit. Tak percaya apa yang tengah kulihat, dan kurasa orang-orang disekitarku melihat hal yang sama. Terpaku, terkejut hingga tidak bisa bergerak. Terlalu terpana melihat langit diatas kami. Pengendara mobil semua keluar dari mobilnya untuk menyaksikan langit secara langsung.

Matahari, matahari yang ada dilangit kami mendekat. Terus mendekat, hingga menyilaukan mata. Ledakan besar terjadi. Menerbangkan tubuh-tubuh ringkih kami ke segala arah. Aku bisa melihat setiap tubuh bergelimpangan diudara seperti laron yang tengah berebut cahaya lampu. Tak ada yang sempat melarikan diri, mereka berteriak sekencang mungkin. Namun tak ada yang bisa menolong. Mereka sibuk oleh pikiran mereka masing-masing.

"Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan, dan gunung-gunung seperti bulu yang di hambur-hamburkan" (QS Al-Qoriah : 4-5)

Seperti tak sadarkan diri sesaat, namun masih bisa merasakan hal yang Mengerikan tadi. Tulang-belulang pun rasanya telah patah menjadi Ratusan potong bahkan bubuk. Rasanya sangat mengerikan!

Aku terbangun ketika sinar matari serasa begitu menyakitkan mata. Terik serta menyilaukan. Dan segera aku sadari. Pantas saja terasa seperti ini, matahari hanya sejengkal diatas kepalaku. Dan aku tak menyadari tak bahwa tidak memakai sehelai benangpun, juga orang disekitarku. Tiada rasa malu, hanya merasa takut yang begitu hebat. Selaksa hari-hari dimana kita di dunia terlintas begitu cepat dibenak. mengingatkan dosa-dosa yang telah diperbuat.

Pada hari itu tidak ada yang mampu menolongmu. Tiada pula hubungan darah yang berarti.

"Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?. Sekali lagi, tahukah kamu apa hari pembalasan itu?. (Yaitu) pada hari (Ketika) seseorang sama sekali tidak berdaya (menolong) orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah." (QS Al-Infitar : 17-19)

Comments

  1. Gambaran menarik mengenai hari kiamat....

    ReplyDelete
  2. Mengerikan

    Hal yg pasti terjadi namun sering kita abaikan atau lupakan

    ReplyDelete
  3. Kereeeen .... deskripsinya luar biasa kak

    ReplyDelete
  4. Wiiih gambaran yang cukup logik untuk hari yang pasti datang

    ReplyDelete
  5. Wiiih gambaran yang cukup logik untuk hari yang pasti datang

    ReplyDelete
  6. Wiiih gambaran yang cukup logik untuk hari yang pasti datang

    ReplyDelete

Post a Comment