Kerudung




Niar agak bingung melihat semua teman perempuan dikelasnya tiba-tiba memakai kerudung. Apa ada acara pengajian berjamaah? Atau diundang acara stasiun televisi yang menayangkan acara islami? Kalau iyapun bulan puasa masih dua bulan lagi, masa iyya mereka akan syuting sekarang.

Padahal kemarin hanya Aini dan Melati saja yang memakai kerudung di kelasnya. Niar membuka chat grup kelasnya, kalau-kalau ia ketinggalan berita bahwa hari ini wajib menggunakan kerudung.

"Assalamualaikum Niar" salam Ria teman sebangkunya sekaligus sahabat terdekatnya. Ia baru saja datang, Niar hampir saja terlonjak dari tempat duduknya begitu melihat Ria yang dikenalnya sangat anti memakai jilbab. Sekarang ia malah menggunakan jilbab, tak tanggung-tanggung ia malah mengenakan jilbab yang panjang. Entah hordeng siapa yang ia pakai.

Padahal Ria paling tidak suka menggunakan kerudung, karena memakai jilbab membuatnya terlihat lebih tua dan bisa merusak rambutnya yang indah bak model iklan shampo di televisi.

"Waalaikumsalam, hehh lu apa-apaan sih ini?? abis lewat kuburan mana kemaren pulangnya?" tembakk Niar asal.

"Apaan sih lo, iseng aja" Ria pura-pura merajuk.

"Ini lagi, hordeng tetangga mana pula yang jadi korbannya?? kacau lu" Niar makin sengit menggoda Ria.

"Bodo, bodo" Ria memonyongkan bibirnya tanda ia benar-benar kesal.

"Eeh tapi seriusan Ri, ada apa sih sama kalian?? Kok pada kompakkan pada pakai kerudung segala? lu pada mau jadi anak Alay dimana??" Niar menatap mata sahabatnya itu serius.

"Kemarin lu masuk gak sih?? Emang gak dengerin pelajaran dari Pak Ridho?"

"Pak Ridho?? Owhh yang tentang hukum memakai kerudung itu untuk perempuan muslim?" Niar mengingat-ingat.

"Nah!! tumben cerdas nih anak, kan itu udah jelas kemarin. Katanya kalau kita nih sebagai anak perempuan keluar rumah nggak menutupi aurat, setiap langkahnya itu sama aja menyeret ayah kita lebih dekat ke neraka. Iihhh amit-amit naudzubillahimin dzalik deh. Gue kan gak mau kalau ayah gue nanti masuk neraka gara-gara anaknya ini" Ria panjang lebar, cerewetnya kambuh.

"Ooohh" Niar hanya mengangguk, sesungging senyum muncul di ujung bibirnya.

"Kok oooh doang!!!" Protes Ria.

"Lah terus gue harus bilang waaaww gitu??"

"Ya nggak gitu juga kali, emang lu gak takut??"

"Nggak!! Malah bagus dia masuk neraka, biar sekalian membusuk dia disana!!" Ujar Niar tak menyesal.

Ia teringat bagaimana ayahnya sering pulang pagi dengan keadaan mabuk dan memukuli ia dan ibunya. Terlebih lagi ayahnya hanya seorang pengangguran tak berguna, kerjanya berjudi menghambur-hamburkan uang hasil kerja keras ibunya.

Baguslah kalau memang begitu adanya. Niar malah semakin mantap untuk tak memakai kerudung. Biar, biar saja ayahnya itu kelak masuk neraka, kalaupun bisa malah ia ingin menjebloskan ayahnya saat ini juga masuk ke dalam neraka jahannam, ditenggelamkan kedalam lahar yang panas hingga menjerit-jerit atau disetrika oleh setrikaan yang maha besar dan maha panas. Baginya lelaki itu tak pantas disebut ayah, biar dia membusuk dineraka!!.

Comments

  1. waw.. segitu sakit hatinya ya Niar... kasian.

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Insya Allah jikalau ada waktu dan ide aku lanjut mbak hehehe

      Delete
  3. semoga tu anak diberi hidayah, sejahat apapun dulu ayah. ayah tetep lah ayah :(

    ReplyDelete
  4. ini cerita komedi hororr namanya, hahahha... seremm bgt anak e

    ReplyDelete

Post a Comment