Kita tidak pernah tahu betul pada siapa hati ini menentukan
pilihan. Terkadang, ia menentukan lewat seringnya pertemuan yang terjadi, hingga
rasanya hampa saat ia tak ada. Atau hati akan menentukan pada orang asing,
namun tak sepenuhnya asing. Bisa saja ada sesuatu yang kita kenal dalam dirinya,
karena memang sudah di gariskan untuk kita sehingga hati ingin memilihnya. Bukankah
sejauh apapun kedua orang yang diikat takdir, tetap akan menyatu pada satu
titik kelak. Lalu mampu berjalan saling beriring, tanpa saling menjauh kembali karena telah
menemukan satu tujuan. Walaupun pada awalnya harus berputar jauh dahulu atau bahkan tersesat.
Seperti aku dan dirimu kini, yang dipersatukan oleh sebuah
kalimat “Asalkan nyaman” benarkah nyaman rasanya? Apa kau merasakan apa yang
kau katakan kala itu?? Aku benar merasa nyaman kini dan ingin selamanya. Bertukar
canda lalu tertawa. Bertukar perhatian; saling menyapa mengucap selamat pagi,
siang,sore malam dengan bonus selamat tidur. Bertanya apa sudah makan, makan
apa? Pertanyaan komunal untuk pemadu kasih, benarkah kini kita bisa dikatakan
sepasang kekasih hanya dengan kebiasaan seperti itu? Menurutku ya, karena aku
baru mendapatkan itu darimu dan belum pernah sebelumnya. Hingga aku merasakan euforia
yang mengelitik diperutku. Bahagia dengan sapaan-sapaan yang kelak menjadi hal biasa dan pertanyaan
sudah makan itu? yang rasanya akan membuatku segera tumbuh besar alias gendut
karena terlalu sering diingatkan.
Pagi, lagi apa kamu?. Sebuah pesan masuk ke dalam handponeku. Aku tersenyum,
sapaan pagi khas yang mampu membuatku tersenyum sepanjang hari. Aku tak
langsung menjawab, menerawang sekaligus
meyakinkan ini bukan hanya imaji bebas sebebas saat di minta mengarang saat pelajaran
bahasa Indonesia.
Jangan Lupa makan siang ya. Pesan itu datang tepat jam dua belas
siang, seperti alarm yang disetel tanpa peduli sedang hujan, hingga badai
sekalipun pesanmu akan selalu datang. Mengingatkan seakan aku adalah pasien
yang pikun untuk meminum obatnya.
Seperti inikah rasnya khawatir yang sering dikatakan
berlebihan para lelaki, dan aku sempat mengatakanya pula pada temanku. Saat itu
ia begitu mengkhawatirkan pesannya yang belum juga di balas oleh kekasih
barunya. Hingga ia uring-uringan, kesal sendiri bahkan lebih parah efeknya saat
datang tamu bulanan. Rasanya serba salah, ingin berteriak dan memaki namun aku
pula harus ingat, mungkin ia memang sedang sibuk. Bukankah ia juga hidup
seperti manusia biasa, bukannya robot yang di rancang untuk menjawab semunya
sesuai jadwal atau keinginan. Mungkin ia sedang sibuk.
Satu jam, dua jam ku tunggu, hingga delapan jam kemudian kau
baru membalas pesanku. Mengatakan alasanmu tak membalas dengan segera seperti
biasa. Padahal aku tak meminta. Namun satu yang kurasa, ada sesuatu yang
hilang! Semua pesanku selalu kau balas dengan singkat bahkan terlalu telat
untuk di balas. Dan aku sadar bahwa saat ini kita sudah tak satu tujuan dan ternyata aku kembali tersesat.
#onedayonepost #tantanganODOP #temaseharihari
Pic by pinterest
34 Comments
Mantaaap...Semakin tersesat rasa itu akan semakin nyata...Sukses tersesat dalam sebuah rasa...
ReplyDeletehahaha iyya kang, tapi nanti saya gak bisa pulang nah loh..
DeleteHai, kak. Boleh koreksi dikit ya 😁
ReplyDeletedi ikat = diikat
"Asalkan nyaman" = huruf A nya gak usah kapital
Pagi, lagi apa kamu?. = tanda titiknya gak perlu, karena (?) sudah ada titik di bawahnya
Kalimat dalam satu paragrafnya juga masih kepanjangan. Hee mungkin bisa dikasih koma atau dibuat jadi 2 kalimat.
Seperti di kalimat ini:
Bukankah sejauh apapun kedua orang yang di ikat takdir tetap akan menyatu pada satu titik kelak dan berjalan saling beriring tanpa saling menjauh kembali karena menemukan satu tujuan. (Ngos-ngosan gak bacanya? 😁)
Iya, kesalahan ejaan, di gariskan, di ikat, di balas. Harus digabung Mas. Hihi...
DeleteWahh makasih koreksi EBI-nya Kak Dian dan Mas Suden.. Noted..
Deletesemoga cepat ingat jalan pulang agar tak terlalu lama tersesat *eh apa sih wkwk
ReplyDeletekeren ka ian, menggambarkan keseharian yg sedang pedekatean :D
Hihihi tersesat memang udah bobi Nov
DeleteTidakkkkk, aku tak mau tersesat 😱😱😱😱
ReplyDeleteRasanya benar2 nyata.
apanya yang nyata lail??
DeleteMajanya rajin"lah bertanya biar gk tersesat
ReplyDeleteMakanya rajin"lah bertanya biar gk tersesat
ReplyDeletehahaha iya pak males bertanya saya, karena takut di culik.
DeleteBacanya sambil mesem 😂
ReplyDeleteBnarkah kita bisa dikatakan sepasang kekasih hanya dengan kebiasaan seperti itu??
Kok ngena yaah, jleb bgt ke ati hihihi.
nggaka apa-apa ren mesem, yang nggak boleh sambil merem baru nggak boleh. nggak keluatan soalnya wkwkwk
DeleteTulisan yang pas buat seseorang yang aku kenal :)
ReplyDeleteasikk siapa itu???
Deleterasanya, aku ikut tersesat ...
ReplyDeleteWaduh jangan dong
DeleteJangan lupa mandi sore mas Septian, hehehe
ReplyDeletewkwkwk iyya mas yan. entar mandi air banjir :v
Deletebacanya bikin senyum-senyum :)
ReplyDeleteasikk hahaha
DeleteUtuk utuk~
ReplyDeleteTersesat dalam hatimu
ReplyDeleteTian, you always puitis and baperlicious
"Bukankah sejauh apapun kedua orang yang diikat takdir, tetap akan menyatu pada satu titik kelak. Lalu mampu berjalan saling beriring, tanpa saling menjauh kembali karena telah menemukan satu tujuan. Walaupun pada awalnya harus berputar jauh dahulu atau bahkan tersesat" suka banget dengan kalimat ini euy, gak tau kenapa. Hihiih
ReplyDeleteJadi, "aku" itu perempuan? #Fokus
ReplyDeletegambar nya aja perempuan wkwk
DeleteWoww 😍
ReplyDeleteBerarti belum berjodoh dan belum waktunya 🙊
ReplyDeleteBaca ini kok saya rad-rada nyengir sendiri. Kata sudah makan belum? Ooh rasanya itu kata-kata wajib untuk sepasang kekasih untuk memulai percakapan.
ReplyDeleteMenggelitik, tapi ok.
Kayaknya tuh pacar kagak punya ide lain untuk memulai percakapan.
Saya jadi penasaran, anak ODOPkah yang mengirim pesan itu?
ReplyDeleteHhhhh =D
Wah kode ini
DeleteHahaha jangan tersesat lagi... ^^
ReplyDeleteKeren bang Ian. Bahasanya enak dibaca.
ReplyDelete