Gadis kecil berseragam kumal




Pagi itu matahari masih enggan untuk bersinar.

Tetapi jalanan Ibu kota sudah dipadati oleh orang-orang yang siap memulai aktifitas membosankan yang mereka lakoni setiap hari.

Wajah mereka kaku, bahkan beberapa ada yang nampak garang. 

Dengan sabar aku menyusuri jalanan yang padat merayap di depanku.

Tiba-tiba mataku tertarik melihat kearahmu, yang sedang berjalan dengan langkah kecil nan mungil.

Rambut sebahumu yang kusut tak menyembunyikan kecantikanmu.

Seragam sekolah batik yang kebesaran membuat tubuhmu semakin terlihat mungil.

Dengan kaki telanjang-mu pula kau menyusuri jalanan ibu kota yang gersang. 

Tangan kecilmu dengan sigap mengambil botol-botol bekas yang ada dijalan ataupun ditempat sampah disepanjang jalan.

Dengan cermat langsung kau masukkan ke karung goni dekil yang ukurannya lebih besar dari tubuhmu sendiri. 

Kau sampirkan karung itu dibahu kananmu dengan satu tangan.

Seketika pula aku terhenyak dengan keadaan miris-mu. 

Begitu miskinkah negeri ini?? Sehingga gadis kecil sepertimu harus bekerja memungut sampah di setiap pagi.

Dimana anak-anak lainnya dengan riang menenteng tas sekolahnya yang berwarna-warni. 
Kau malah membawa karung goni.

Disaat anak-anak seusiamu asyik bermain kejar-kejaran. 
Kau malah berkejar-kejaran dengan asap knalpot.

Maafkan lah negara-mu gadis kecil yang belum bisa mengurusmu dengan baik.

Maafkan pula orang-orang disekitamu yang hanya bisa memandang iba atas penderitaanmu.

Maafkan pula diriku

Yang hanya bisa mendoakanmu agar kelak dirimu mendapatkan hidup yang lebih baik.

Dan ini adalah selemah-lemahnya iman.




#OneDayOnePost, #ODOP, #HariKeempatbelas

Comments