THIRD - BAB 1 (Part 4)


    Sudah setengah satu, tapi mataku menuntutku untuk tetap terjaga, padahal rasanya tubuhku serasa akan luluh lantak. pegal disana-sini tapi mata tetap tidak mau berkompromi juga. Tiba-tiba begitu banyak pikiran yang melayang dikepalaku, seperti ada televisi di kepalaku yang sedang dipencet tombolnya diganti setiap detiknya ke channel lain. potongan-potongan memori tentang hari persidangan perceraian Ibu dan Ayah. Lalu saat Ibu pergi meninggalkan Aku dan Ayah dengan membawa kopernya. tentang bagaimana aku melihat Ayah setiap hari duduk di televisi menatap kosong kesana. Ah Ibu kenapa kau begitu tega pada kami? AKu mencintai kalian tapi aku tidak bisa memeilih, tapi ibu kenapa menghancurkan segalanya?. aaku tidak bisa membencimu begitu saja, tapi hatiku terluka bu.

    Tak terasa air mataku meleleh, aku perhatikan setiap jengkal kamarku. Ada bayangan Ibu dan Ayah yang dulu selalu menemaniku sebelum tidur. Lalu ada saat ibu kekamarku untuk mengecek apakah aku sudah terlelap atau belum? semua begitu indah untuk dihancurkan begitu saja. ku duduk di ujung tempat tidurku  lalu memeluk lututku yang terasa sangat lemah. menangis sejadi-jadinya .

**********************************************************************************
    Entah apa yang dipikirkan Tariq sejak kemarin, pikirannya terkecoh oleh perasaan yang ia kira sudah tak dapat ia rasakan lagi, rasa menggebu-gebu dalam hatinya yang membuatnya kembali bersemangat. Perasaan yang membuatnya merasakan getaran-getaran lembut namun sekaligus mengejutkan. Wajah manis gadis yang ditemuinya kemarin, benar-benar menghidupkan kembali rasa itu. Ia selalu teringat akan wajah konyol konyol karena merasa benar-benat takut bahwa dirinya seorang teroris yang sedang membawa bom ditasnya.


    Mungkin ia memang sudah gila, entah kenapa ia menunggu di dalam halte busway  Tempat mereka  berpisah kemarin. Jika tidak gila bagaimana bisa ia rela menunggu tiga jam di dalam halte transjakarta ini untuk menemui satu orang gadis yang baru dikenalnya lima hari yang lalu.

                Satu-satunya alasan ia menungggu disini karena memang hanya ini petunjuk yang ia punya tentang gadis itu, yang ia tahu gadis itu tinggal lingkungan ini. Dan ia selalu naik transjakarta sebagai transportasinya pulang-pergi dari tempat kerja-nya menurut yang ia perhatikan.

                 Setiap transjakarta yang berhenti untuk menurunkan para penumpangnya, Tariq langsung berdiri di depan pintu otomatis agar bisa melihat dengan jelas jika Kesha ada diantara kerumunan para penumpang dan begitu seterusnya yang ia lakukan setiap transjakarta yang lewat. Tubuhnya yang jangkung menjadi andalannya sehingga tak ada satu-pun penumpang yang tak lewat dari pandangannya. Tiga jam sudah berlalu tak kunjung juga ia temukan gadis itu, rasanya ingin menyerah dan pulang.


                  Berbagai spekulasi timbul dipikirannya, mungkin Kesha sakit sehingga ia tak masuk kerja hari ini, atau ia dijemput oleh pacarnya atau ia tidak naik transjakarta hari ini atau karena hal lainnya yang membuatnya harus menghentikan tindakan bodohnya ini.

              “Okehh satu kali lagi, kalo yang ini gak ada gue balik” ujarnya dalam hati, menguatkan dirinya yang sudah mulai goyah untuk tetap berdiri menanti ketidakpastian. Ia kembali lagi berdiri begitu melihat transjakarta mendekati halte.

                  Kakinya terasa sangat berat kali ini, kesemutan yang tadi tak ia rasa kini menjalar dari ujung kaki sampai ke pahanya. Detik-detik transjakarta mendekat terasa sangat lama. Seperti slow motion pada film-film, lambat sangat lambat. Transjakarta gandeng berdecit keras  merapat pada halte dengan mulus, tepat di depan pintu otomatis. Sang kondektur yang terlatih segera mempersilahkan para peumpangnya yang ingin turun dihalte ini. Tariq menatap satu-satu penumpang yang keluar dari pintu transjakarta.


     Lehernya ia panjangkan agar bisa lebih jelas ia melihat semuanya. Padahal ia tak perlu melakukan itu, karena tinggi badannya yang diatas rata-rata itu sudah cukup untuk melihat semua penumpng yang keluar. Tapi ini adalah usaha terakhirnya untuk hari ini, maka ia ingin berusaha semaksimal mungkin .

                “KESHA” Teriak Tariq senang begitu melihat wajah gadis yang ia nanti sejak tadi terlihat. Kesha tertegun membatu kaget begitu melihat Tariq berdiri di depannya. Tanpa menunggu lama Tariq langsung menarik lengan kesha. Sebelum Kesha diteriaki penumpang dibelakangnya yang ingin turun. Wajah Kesha terlihat terkejut.

               “Hey, kok malah bengong???” ujar tariq menuntun tangan Kesha menjauh dari pintu halte yang masih sibuk menurunkan penumpang.
              “Nggak kenapa-kenapa kok”  ujar Kesha gugup.
              “Masih inget gue kan?” Tanya Tariq lagi, takut-takut kalau Kesha punya penyakit alzheimer.
              “Ma-masihlahh, emangnya gue udah tua apa?”  kesha mengernyitkan dahinya dan membuang wajahnya dari pandangan Tariq, ia takut wajahnya memerah karena malu.
              “Loe ngapain disini??” Tanya Kesha sedikit curiga.

              “Ehhhh anu tadi gue juga baru turun dari bus yang didepan, sekalian nunggu temen jemput” kilah Tariq, ia tak mau Kesha tahu kalau sebenarnya ia sudah menunggu sejak tiga jam yang lalu untuk bertemu dengannya.
              “Owhhh” kesha mengernyitkan keningnya antara percaya dan tidak. Tapi terihat senyum kecil mengembang diwajahnya, karena memang laki-laki didepannya itulah yang mengusik harinya belakangan ini. Mungkin memang jodoh pikir Kesha berbunga-bunga.

              “Udah makan?” Tanya Tariq seketika berbalik saat berjalan didepan kesha.
              “Belum sih, kenapa mau neraktir emang??”
              “hahaha, boleh kalo nggak keberatan” Tariq tersenyum puas. Lesung pipinya tersembul malu-malu.
              “Tapi kan kamu nungguin temen-mu yang mau jemput kan?”
              “Iyya sih hehe, tapi bosen nih nungguin dia dari tadi”
              “Tau sendirilah jam-nya orang Indonesia, jam karet. Walaupun bilangnya OTW kenyataannya masih asik chatingan dikasur.”
              “Hahaha iyya sih. Pengalaman banget kayaknya. Jangan-jangan yang ngomongnya juga suka gitu lagi”
              “Hahaha ya iyalah kadang-kadang”
              "Dasar, sama aja kalo kayak begitu mah" sungut kesha lalu memukul lengan Tariq dengan tas-nya.
              "Jadi mau makan dimana nih?" tanya Tariq.
              "Disana aja tuh, warung bakso-nya Bang Udin, behh mantap rasanya. Jadi entar temen lue juga gak kejauhan nyarinya" Kesha menunjukkan warung bakso yang terkenal enak didaerah dekat halte. Untuk jaga-jaga kalau teman Tariq sudah sampai untuk menjemput-nya sehingga ia tak harus berjalan jauh. Sambil menunggu pesanannya diantar,Tariq bercerita tentang pekerjaannya yang seorang desainer grafis di sebuah agensi periklanan terkenal dijakarta.
              “Wah seru dong bikin-bikin iklan gitu”
             “Ya gitulah. Enjoy aja ngerjain sesuatu yang kita suka. Jadi kerja nggak kerasa”
             “Iyya emang betul” balas Kesha sambil menyeruput es teh manisnya untuk menghilangkan rasa.              “Kapan-kapan kayaknya kamu harus ngundang saya buat jadi desainer grafis dimajalah kamu Sha”
             “Haha boleh, tapi desainer grafis dimajalah aku udah keren-keren kok”
             "Mbak Kesha ini baksonya, Mas ini pacarnya mbak Kesha ya?, wah selamat mbak Kesha udah nggak jomblo lagi"  seloroh Bang Udin asal, sambil memeberikan pesanan untuk mereka.
             "Apaan sih Bang Udin, Kepooo... udah sonoo" usir Kesha pada Bang Udin yang memang menjadi langganan-nya sejak dulu, bahkan sejak kecil ia sudah sering makan bakso disana bersama kedua orang tua-nya.
             "Owhh dia jomblo bang?" tanya Tariq usil pada Bang Udin sambil tertaa cekakan tak bisa menahan diri. Kesah yang ditertawakan tidak tinggal diam. dengan cepat tangannya meraih tempat tisu yang ada dihadapannya lalu melemparkan ke Tariq dan tepat mengenai jambul tariq yang kokoh.

Sumber gambar : http://berrykitchen.com/new/index.php/recipes/show/resep-membuat-bakso-sehat-dan-kenyal

#ODOP #HariKelima #februariMembara

Comments