Cerpen - Nayla Story (Senja itu)




Ya aku yakin bisa dan aku percaya itu, suatu hari aku bisa berada di sampingmu.
Duduk berdua dibawah sinar bulan.
Menceritakan tentang kisah kita.
Membuat rencana-rencana masa depan.

Aku tak tahu bagaimana kau  bisa mendapatkan tempat seindah ini, bukit dengan ilalang tinggi yang melambai-lambai diterpa angin sore. Langit yang terlihat lebih indah dan awan yang berarak ke selatan dengan gerakan yang lambat. Cahaya mentari-pun tak begitu menyilaukan, sehingga  bisa melihat langit tanpa perlu menyipitkan kedua mata.

Kita berbaring diatas rumput tanpa alas, tapi ini sangat nyaman rasanya, terlebih lagi bersamamu, ya ada dirimu disampingku. Apalagi yang akan aku inginkan jikalau dirimu ada disini? Tidak ada!

Kau menggeliat menggeser tubuhmu hingga tubuh kami saling berdekatan, kepalamu menempel dengan kepalaku, bisa kulihat senyum geligi-mu yang terlihat puas sekali karena melihatku terpukau dengan ini semua. 

Aku masih memandangi langit diatasku, kau juga tapi sesekali menoleh kearahku membisikkan bahwa kau mencintaiku di telingaku, rasanya geli dan menyenangkan. 

Aku tertawa saat kau lagi-lagi membisikkan kalimat itu, aku benar-benar mencintaimu bisik-ku dalam hati. Entah mengapa aku tak bisa membalas mengucapkan kalimat aku mencintaimu juga bahkan lebih.

Perlahan jemarimu mengenggam jemariku hingga jemari kita saling mengunci. Seakan simbol untuk mengunci cinta ini, ya cinta yang telah lama kita rajut. 

Aku masih belum bisa berkata apa-apa. Kau terus membual tentang saat kita menikah nanti, setiap pagi saat kau berangkat kerja aku akan membuatkanmu sarapan pagi dan kopi tanpa gula kesukaanmu. Lalu tak lupa mencium keningku sebelum kau pergi. 

Lalu kita akan mempunyai dua anak, satu laki-laki yang akan mirip denganmu dan satu anak perempuan denganku. Setiap hari minggu kita akan ke taman  bermain bersama mereka. Dan hal lainnya yang membuatku tertawa bahagia tanpa berkomentar apa-apa.

Aku berbalik ke arahmu dan kau melakukan hal yang sama, sehingga kami saling berhadapan. Kita sangat dekat, dekat sekali. Sehingga hembusan nafas lembutmu bisa kurasakan mengenai wajahku. Begitupun juga dengan nafasku. 

Aku biarkan mataku yang mengatakan bahwa aku sangat mencintai-mu dan kuharap kau mengerti. Lenganmu membelai pipiku lembut, bahkan lebih lembut dari buaian angin senja. 

Ku letakkan wajahku di dadamu agar aku bisa merasakan detak jantungmu menyamakan detak jangtungku dengan detak jantungmu sehingga menjadi satu irama yang indah dan menenangkan.

“Kamu mau kan nikah sama aku?” tanyamu serius sambil terus memainkan jemarimu dirambutku.
Aku bangkit dari pelukanmu dan menatap wajahmu seketika itu juga, aku takut kau hanya bercanda tapi wajahmu benar-benar serius kali ini. 

“Aku Serius Nayla binti Ahmad, kamu mau kan??” ujarmu lagi lalu mengecup lenganku. Aku makin tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya mengangguk dan kurasakan ada air bening di kedua ujung mataku, ya aku mau menikah dengan mu Rizki Hermawan bisikku dalam pelukanmu. 

Aku bahagia sekali, sangat!! Aku menghambur ke pelukannya lagi, ingin sekali bisa menghentikan waktu saat ini juga. Langit senja yang menguning ditemani kicauan burung gereja yang kembali kesarangnya dan ada dirimu. Ini akan menjadi ingatan yang paling indah dalam hidupku.

***
Aku tak dapat memejamkan kedua mataku, aku takut! Aku takut ingatan tentang hari ini akan menghilang dari ingatanku. Aku bisa gila karena bahagia kalau seperti ini terus, aku tak percaya akhirnya engkau melamarku. 

Rasanya baru kemarin sore kau mendatangiku dengan berurai air mata, karena kau tak diperbolehkan mengikuti tes masuk sekolah sepak bola oleh orang tua-mu. Aku tahu benar dirimu, sejak dulu kau selalu menceritakan suatu hari akan bermain dilapangan bola  sekelas eropa, pasti itu benar-benar menghancurkan hatimu. 

Aku biarkan dirimu menangis dipelukanku, orangtuamu memaksamu untuk mengambil kuliah jurusan IT di perguruan tinggi Negeri. Aku menyarankan kau untuk menuruti orang tua mu, karena memang itu yang terbaik bagimu. Dan kau akhirnya menuruti setalah menimbang untung-ruginya untukmu. Dan benar bukan apa yang orang tuamu katakan. 

Kau berhasil seperti sekarang lulus dengan Cum Laude dan diterima diperusahaan asing sebagai IT Engineering. Aku selalu mewanti-wanti dirimu agar selalu menuruti ucapan orang tuamu. Karena mereka selalu tahu yang terbaik untukmu. Selalu.

***

“SAHH??” tanya pak penghulu, sambil mengedarkan pandangan keseluruh hadirin yang ada. Aku hanya tertunduk tak berani menatap kanan-kiriku. Kau pun diam membisu karena gugup, setelah mengcapkan ijab qabul. Kulihat tanganmu gemetar, tapi kau menahannya dipahamu agar tak bergetar hebat. Air mataku mulai membanjiri pipiku, tak kuat lagi aku menahan tangis ini.
“SAHH!!” seru orang-orang disekeliling saling bersahutan, karena tidak ada tanda-tanda orang yang akan menyangkal. 

Sebenarnya akulah yang ingin berteriak tidak sah, aku ingin menghentikan pernikahan ini. Aku ingin sekali berada digaris paling depan untuk menghentikan pernikahan ini. Tapi apalah dayaku?? Seharusnya aku tak ada disini, mengapa aku masih saja datang ke acara penikahanmu?? Pernikahan yang seharusnya antara aku dan dirimu.

Tapi mengapa bukan aku yang kini ada disisimu saat ini? Kenapa malah perempuan itu? Bukankah kau pernah berjanji akan menikahiku bukan dia?? Aku benci diriku sendiri mengapa aku malah menghadiri ini. Perlahan aku mundur dari tempat dudukku, aku sudah tak kuat lagi berada disini.
Seraya orang-orang disekitar mengarahkan pangdangannya kearahku, aku tak peduli. Aku tak peduli apa mereka iba atau malah mencibirku. Sekilas aku melihat dirimu ingin ikut bangkit dari tempamu. 

Tapi perempuan itu menahan tanganmu. Perempuan pilihan orang tuamu, seharusnya aku tahu, orang tuamu takan pernah merestui hubungan kita. Apakah aku akan bisa melupakanmu? Melupakan senja itu? Senja yang menjadi saksi saat kau memintaku untuk menikahiku.

Namun kini aku tak yakin, dan terus bertanya.
Bisakah aku bersandar disampingmu?
Untuk sekedar memastikanmu baik-baik saja.
Tiba-tiba saja kehampaan mengisi seluruh relung jiwaku.
Seakan tiada lagi bintang dan bulan dilangitku.
Ingin ku berteriak dan mencoba meraihmu.
Tapi itu hanya merong-rongku hingga aku hancur tak berbentuk.
Kini yang aku tahu aku hanya merindukanmu.
Sangat!!

Comments

Post a Comment