Puisi - Mengingatmu

Lagi aku kembali terjaga dimalam yang sunyi, hanya deruan mesin kipas angin dan suara jangkrik yang menemani dalam sendu.

Entah apakah engkau-pun merasakan yang sama diujung sana. Ada rasa yang begitu menggelitik jiwa dan membuat hati resah tak terkira.

Semakin kucoba menghempaskannya semakin besar dan menggeliat liar pula ia didalam sana.

Malam ini aku tak lagi dapat melihat senyummu yang sedikit tersipu saat aku mencuri pandang dari balik tubuh teman-temanku.

Memang aku tak berkata, begitupun engkau. Tapi getaran jiwa ini sungguh terasa.

Sang penyair membisikkan bahwa aku sedang rindu, lalu aku bertanya padanya. Pada siapa rindu ini aku tujukan?

Tentulah ia yang selalu kau bayangkan disetiap menjelang tidurmu, balasnya tegas.

ya aku tahu, bahkan aku tak perlu bertanya lagi seharusnya. 

Karena memang engkau yang memenuhi relungku. ini hanya sebatas basa-basi antara aku dan penyair yang selalu mendendangkan syair-syair rindunya, yang bagiku bagaikan irisan-irisan silet dilenganku.

Perih dan mematikan.

Ingin aku berkata padamu saat engkau tengah bercanda dengan kawanmu didepan bus kota tua yang berjalan sangat lambat karena usia, tapi bibirku kelu dan hanya mampu membiarkan-mu berlalu. 

Kembali aku hanya dapat merekam detil-detil dirimu yang begitu sempurna.

Ya aku hanya mampu begitu, mengagumi dari jauh. Lalu memperhatikan setiap detil langkah gerikmu, sehingga aku hapal bagaimana caramu tersenyum dengan menunjukkan gigi taringmu yang tersumbul malu.

Atau bagaimana kerlingan mata tajam-mu langsung menjuru padaku, saat kau merasa ada seseorang yang mengawasimu.

Seketika pula akau mengalihkan pandanganku tapi dalam benakku aku memastikan bayang wajahmu kembali terekam dengan jelas agar aku bisa melihatnya dimanapun dan kapanpun aku ingin menghadirkanmu.

Bahkan jika saja manusia dikumpulkan dalam satu stadion yang megah aku akan dengan mudah menemukanmu diantara berjuta manusia lainnya. karena kau sangat hafal postur tubuhmu, aku hafal betul pundakmu yang meruncing dan cuping telingamu yang panjang.

Tuhan jika saja engkau memberikan aku kekuatan untuk memberanikan diri untuk sekedar mengatakan "hai" pada-nya itu lebih dari cukup. karena dengan begitu aku tak perlu bersembunyi untuk mengagumi wajahnya yang bagaikan bulan purnama.

Dan mungkin ini permintaanku yang lancang Tuhan, aku hanya ingin menyentuh wajah-nya, membelai lembut pipinya, memainkan anak rambutnya yang pirang terkena mentari, lalu memberikan kecupan lembut dikeningnya dengan penuh khidmat.

Tangerang, 29 Desember 2016

Comments

  1. Bahkan jika saja manusia dikumpulkan dalam satu stadion yang megah aku akan dengan mudah menemukanmu diantara berjuta manusia lainnya.

    Caraku menemukanmu ini, sungguh, mematahkan istilah “Bagai mencari jarum dalam tumpukkan jerami.”

    #EdisiMainSambungSambungan wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahahaha itu kurang kerjaan sebenernya kak Int.

      Delete

Post a Comment