Surat itu



Kubaca kembali surat yang kutuliskan sejak semalaman suntuk. Surat yang membuatku tak mengindahkan peringatan global warming untuk menghemat kertas. Lihat saja tempat sampah didepan kamarku hampir setengahnya terisi oleh gumpalan kertas surat yang setelah kubaca ulang kalimatnya aneh atau karena ada kesalahan. Aku tak pandai merangkai kata memang, tak pandai seperti Kahlil Gibran yang bukunya sering kau baca.

Mungkin kau akan merasa mual dan pusing setelah membaca surat ini, yang rangkaian katanya acak-acakkan karena aku sering tertidur saat Bu Dini menjelaskan SPOK di depan kelas. Kau tahu sendirikan aku paling anti dengan pelajaran Bahasa Indonesia.

Walaupun sekarang aku sangat menyesalinya. Andai aku saat itu memperhatikannya, pasti tak akan sesulit ini membuat sebuah surat dengan tiga paragraf di dalamnya. Aku menuliskan surat ini, karena aku juga terpaksa. Karena aku sudah menyerah untuk mengatakan tiga kata yang singkat dan padat itu dihadapanmu.

Aku akan terlihat bodoh di depanmu nantinya. Seperti akhir semester lalu, bukannya menyatakan kalimat itu. Aku malah melakukan hal bodoh dengan tergugup-gugup di depanmu lali kabur begitu saja seperti melihat hantu. Aku juga akan terlihat aneh, karena bibirku selalu kelu seperti orang gagu saat berada didekatmu.

Aku harap ini cukup untuk menyatakan perasaanku padamu. Setidaknya aku akan lega jika kau tahu tentang itu. Dan aku bukan lagi menjadi Pecundang yang tak mampu ungkapkan rasa yang menggebu.

Subang, 14 April 2017

Comments

Post a Comment