Tragedi Cinta



Entah sudah berapa kali kata cinta terselip Dalam setiap bait yang kutuliskan.

Mulai dari yang samar-samar macam ikhfa.
Hingga yang jelas serta lantang layaknya izhar.

Aku memang terlalu mudah untuk jatuh cinta. Semudah debu-debu jalanan hinggap ke mata. Kelilipan.

Tuhan mungkin sudah bosan dengan permintaanku yang selalu sama agar ditalikan kepada dia yang kucinta. Saking bosannya ia malas untuk mengabulkannya.

Aku Jatuh cinta, benar-benar jatuh terperosok kedalamnya. Sampai-sampai aku terjebak dalam drama yang didalangi oleh otakku sendiri. Seakan mengingkari takdir Tuhan, aku memproyeksikan-nya dalam setiap malamku, dalam setiap lamunanku.

Namun Tuhan pun seakan ikut di dalamnya dan mengacaukan segalanya. Bahkan dalam pikiranku sendiri semuanya nampak mustahil.

Semudah-mudahnya aku jatuh cinta. Lebih mudah lagi aku untuk Patah hati. Patah hati ibarat nasi yang aku makan tiga kali sehari. Tak bosan aku menikmatinya, karena lauknya berbeda.

Lagipula manusia sepertiku terlalu acak, suka mengorek luka yang akan kering, hingga kembali berdarah dan membuatku meringis mengeluarkan air mata.

Tersakiti oleh diri sendiri. Dilandasi pengharapan yang terlalu tinggi, dan saat jatuh aku akan terkapar mati.

Comments

Post a Comment