Menjelang Pukul Satu


Sudah hampir pukul satu pagi.
Mataku belum bisa memejamkan mata.

Dengungan kipas serasa lebih menggelegar dari pada biasanya.

Nyamuk-nyamuk yang baru lahir turut andil membuatku enggan lelap.

Gigitan di telapak kaki membuatku meringis. Gatal bukan main.

Ditambah lagi perut perih antara lapar dan bekas kepedasan.

Maka aku ganjal dengan dua biji nastar sisa lebaran, dan sebuah puisi aneh yang kutulis tanpa arah dan tujuan.

Sejenak terpikir olehku, merasakah dirimu saat membaca sajak-sajak yang kutuliskan untukmu?

Apa perlu ku sebut namamu di dalam baitnya?

Atau mungkin kau tak pernah membacanya?

Percuma ya!

Tangerang, 2 Juli 2017.

Comments

Post a Comment