Pada Suatu hari (Part 3)



 "Um café e um amor. Quentes, por favor. Pra ter calma nos dias frios, pra dar colo quando as coisas estiverem por um fio." ♥

( SAMASTA )

Kesha mengajakku ke restoran seafood di ujung jalan. Jalanan terasa lenggang, bisa di hitung oleh jari kendaraan yang melintas. Kesha terlihat menghela nafas sebelum memasuki restoran tersebut, seakan ada kenangan buruk pada tempat ini. Aku jelas tahu apa itu!!

***
( KESHA ON THIRD )

Perut Kesha sudah keroncongan sejak tadi pagi karena belum sarapan, jadi siang ini ia memutuskan untuk pergi makan siang bersama Arya dan Dian. Jarang sekali ia ikut makan siang diluar, tapi setidaknya ia harus melakukan itu sekali-sekali. Bosan juga rasanya di kantor selama  delapan jam penuh.
Mereka memilih makan di restoran seafood belakang kantor tempat ia bertemu dengan Viona teman Agnes minggu lalu. Sebenarnya ia ingin menolak baginya itu adalah tempat yang sudah di blacklist dalam catatannya, namun karena Dian yang sedang ngidam katanya ia ingin makan cumi bakar dan ikan bakar yang terkenal enak disana, mau tak mau ia harus mengalah dengan ibu hamil tersebut dari pada nanti ia di mintai pertanggung jawaban setelah anaknya lahir jadi tukang ngces. 

Mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja, karena memang jaraknya dekat dengan kantor, sehingga mereka tak perlu repot-repot mengeluarkan mobil untuk kesana.

“Kita duduk disana aja ya!” tunjuk Arya menuntun di depan sambil menunjuk meja kosong dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalan raya. Kesha yang di belakang barisan tiba-tiba melihat dua sosok yang ia kenal. Tariq terlihat kaget melihat Kesha begitupun sebaliknya. Tapi Tariq dengan cepat tanggap menutupi kekagetannnya itu dengan mengalihkan pandangannya  ke buku menu yang ada di depannya. 

Tariq terlihat seperti acuh dan tak mengenal Kesha. Tidak seperti Tariq, Kesha malah berhenti di tempat, rasanya kaki-kakinya kaku tak bisa bergerak. Bagaimana mungkin ia bisa berpura-pura tak mengenal Tariq? 

“Kesha Kenapa? Kok bengong disitu?” tanya Arya yang sudah duduk di tempatnya begitu memperhatikan Kesha yang malah diam seperti patung, sedangkan Dian malah asyik dengan menu di tangannya.

“Nggak Kenapa-kenapa kok!” bohong Kesha segera melangkah menuju mejanya dengan langkah yang sangat berat.   

Tetapi matanya tidak bisa lepas dari Tariq dan Agnes disana. Ada rasa ngilu yang sangat menyiksa di ulu hatinya. Rasa laparnya mendadak hilang. Satu-satunya dipikirannya saat ini, ialah lari dari semua ini. Pergi dari tempat ini sesegera mungkin. 

“Di, Ar aku harus balik ke kantor sekarang deh kayaknya. Aku lupa sesuatu” ujar Kesha lalu berdiri meninggalkan Dian dan Arya. 

“Kesha!” panggil Arya yang bingung melihat Kesha tiba-tiba tidak bersemangat, padahal tadi di jalan mereka asik membayangkan makan ikan bakar yang lezat, tapi kini ia malah pergi begitu saja. Arya menatap Dian penuh tanya. Dian hanya membalas dengan tatapan bingung juga sambil menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.

***
( SAMASTA )

"Hai Alya, apa kamu punya handuk kering? Boleh aku pinjam?" tanya Kesha pada wanita penjaga restoran. Ia hanya menjawab dengan mengangguk atau menggelengkan kepalanya. Entah bisu atau ia terlampau pendiam, bagi ukuran penjaga restoran yang seharusnya ramah dan ceria jelas ia tidak termasuk kriteria.

Kesha memberikan handuk yang tadi di berikan gadis bernama Alya, aku segera mengelap bajuku yang lepek oleh air, rasanya sangat tidak nyaman, seakan aku sedang mengenakan baju yang sangat ketat. Dan dingin tentu saja, di tambah pendingin ruangan yang menyala membuatku menggigil.

Alya datang membawakan teh panas yang mengepul. Aku mengucapkan terimakasih, dan ia hanya mengangguk tanpa senyum dan kembali ke tempat duduknya di pojok meja kasir dekat pintu masuk.

"Tempat ini namanya apa tadi kau bilang? sam..samas?"

"Samasta" jawab Kesha cepat sambil memperhatikanku lekat-lekat, seperti aku ini adalah sesuatu yang dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga akan sangat rugi jika melewatkannya barang sejenak.

"Apa itu?" tanyaku jengah, antara bertanya tentang apa itu samasta dan tatapan macam apa itu??. Aku benci saat orang memperhatikan lebih dari lima detik, karena itu membuatku seperti teralienisasi alias aneh. Terlebih kita tak bisa tahu betul apa yang mereka pikirkan tentang kita bukan?. 

Sumber gambar : https://id.pinterest.com/pin/418201515379189080/


Comments

Post a Comment