Hanging Tree



Semua orang hadir mengelilingi lapangan yang di tengahnya berdiri kokoh pohon beringin yang dahannya lebat oleh dedaunan. Sulur-sulurnya menghujam ke bawah seperti tentakel yang siap menerjang siapapun yang berani mendekat dibawahnya.

Waktu itu matahari sudah hampir di penghujungnya. Pantulan sinar keemasan lembutnya membuat khidmat suasana. Tak ada yang berani berkata bahkan sekedar menggerakkan kakinya yang gatal. Semua mata tertuju pada pohon di tengah lapangan tersebut.

Lima menit yang lalu tubuh itu masih menggelepar, berusaha melepas akar pohon yang menjerat lehernya tanpa ampun. Mengais-ais udara kosong di sekitarnya, berharap oksigen jangan cepat terbuang sia-sia dari tubuhnya.

Dadanya seperti terbakar sesaat, hingga akhirnya ia pasrah dan terbayang seseorang yang ia cinta. Seseorang yang menjadi penyebab tubuhnya kini tak bernyawa.

Semua orang tahu ceritanya, kisah tentang cinta lelaki pribumi biasa dan seorang wanita belanda. Lelaki itu dituduh membunuh tiga orang belanda, padahal ia hanya berusaha melindungi diri dari lima tentara belanda yang dngan nafsu ingin membunuhnya.

Keadilan tidak pernah memihak para pribumi yang tertindas, apalagi memihak cinta yang hanya sebuah rasa tak terdeskripsi.

Keesokan harinya, sang noni belanda di temukan kaku tergantung pula diatas pohon beringin. Kedua tangannya memeluk erat sang lelaki, siluet-siluet kedua mayat itu begitu indah tergambar diatas tanah berkat sinar mentari pagi. Ini bukan kisah tragis, namun kisah tentang pembebasan cinta.

Comments

Post a Comment