Write is healing



Perjalanan menulis gue dimulai ketika gue merasa kesepian di tempat yang asing dengan orang-orang yang asing pula. Melalui buku tulis sidu 38 lembar, gue mencoba mencurahkan perasaan gue disana. Menulis kekesalan gue kepada teman sekamar yang merebut jatah makan gue, atau teman sekelas yang bikin gue nangis. Sekolah asrama membentuk gue menjadi manusia yang lebih pendiam dari sebelumnya. Namun berkat tulisan-tulisan penuh air mata dan konyol (yang kalau dibaca sekarang, dalam hati akan berkata ‘kok gue bisa ya dulu, menulis sesuatu yang menjijikan seperti ini?’.) gue mampu survive disana selama enam tahun. Tentunya gue udah punya teman bahkan sahabat kental yang mendukung gue dalam dunia kepenulisan. Saat masuk kelas sembilan, gue baru benar-benar tau yang namanya cerpen, dan gue mencoba menulis cerpen untuk lomba tahunan yang diadakan kala itu. Gagal untuk pertama kalinya tentu membuat gue kecewa dan patah semangat, tapi sahabat gue Zulfikar. Dia menyemangati gue, bahkan sampai rela bantuin gue ngetikin cerpen gue dan nyariin pinjeman komputer untuk menulis.

Tahun ketiga gue ikutan kembali setelah gagal di tahun pertama dan kedua. Sebagai ikhtiar terakhir gue kala itu. Dan saat itu adalah tahun terakhir gue disana, nggak ada salahnya mencoba lagi. Gagal sekali, dua kali bahkan puluhan kali nggak seharusnya membuat gue lelah dan menyerah. Thomas Alfa Edison kalau bermental seperti itu, nggak akan mungkin mampu menemukan lampu pijar atau bohlam seperti saat ini. Yang telah membawa kita dari jaman kegelapan hingga ke jaman terang benderang seperti ini. Kalaupun dunia menjadi terang dengan penemuan lampu pijar, yang pasti bukan dia yang akan kita kenal sebagai penemunya.

Tanpa disangka, gue menjadi juara pertama dalam lomba tahun itu. Itu sebuah keajaiban besar dalam hidup gue yang meyakinkan gue. Bahwa hasil selalu di imbangi oleh jerih payah dan semangat pantang menyerah. Selama dua tahun itu gue selalu mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba itu, mulai dari rajin baca-baca buku, sampai nanya-nanya di sela istirahat atau pas pelajaran bahasa indonesia ke ustad/ustadzah yang mengajar gue.

Vakum beberapa tahun menulis, setalah bersahabat dengan dunia baru. Dunia kerja yang kejam di ibukota, hingga pada suatu titik merasa jenuh dan ada sesuatu yang kosong di dalam hati. seperti ada yang kurang gitu, tapi gue bener-benr lupa apa itu. Setelah melalui insomnia satu malam panjang, gue berpikir-pikir apa yang membuat gue seperti ini?? Gue mencoba menulis kejadian-kejadian aneh yang menimpa gue selama beberapa hari terakhir, di tambah catatan hutang yang ternyata lumayan panjang. Selesai membuat coretan-coretan itu, gue merasa lega. Eureka!! This is what I miss and forget. Ya gue lupa ritual menulis diary apalagi sampai menulis puisi dan cerpen abal-abal yang biasa gue lakukan dahulu kala. 

Jadi mulailah gue kembali bangkit, mencoba membeli buku diary khusus. Bukan lagi buku sidu 38 lembar yang setiap halaman bawahnya ada quotes itu. Melalui media sosial pun gue mulai mencari-cari informasi lomba-lomba menulis(nyari doang, tapi nggak ikutan) sampai kelas menulis. Dan akhirnya pertemuan dengan ODOP membuat gue kembali menulis cerita fiksi, cerbung-cerbung(walaupun banyak yang nggak selesai), puisi galau anak muda yang kesepian, sampai curhatan unfaedah gue tulis di blog. Dan dari hasil usaha selama dua tahun terakhir, akhirnya gue bisa menerbitkan satu buku kumpulan cerpen yang berjudul “Pohon Impian” sebagai buku solo gue. 

Dan semoga akan ada buku selanjutnya, begitulah cerita perjalanan singkat menulis gue selama ini. Bagi gue sendiri menulis adalah sarana pengibatan gue agar nggak setres menghadapi permasalahan yang kadang nggak bisa kita ceritain ke siapapun. Jadi gue menulis untuk menjaga gue tetap waras. Oke see you next post everyone. Atau kalau mau lebih lanjut tentang perjalanan menulis gue bisa dibaca dibuku Antologi ODOP 1 ‘Surat Cinta Untuk Penulis Pemula’ yang semoga segera terbit. Mohon doanya juga semoga lancar proses kelahiran antologi kami ini yang mangkrak bertahun-tahun.


#Tantangannonfiksi #perjalananmenulis #ODOPbatch5

Comments

  1. ada blogger yang nulis, menulis itu juga harus dipaksa. sama kayak obat. walau pahit hasilnya sehat.

    ReplyDelete

Post a Comment