Puisi - Supir Angkot itu ayahku

Supir Angkot itu ayahku,
Mungkin saja engkau pernah naik angkot D 01 jurusan cileduk-kebayoran lama.
Dan jika kau sering menggunakan angkot itu, bisa jadi salah satu supirnya adalah ayahku.

Tingginya sedang dengan perawakan agak gemuk, kulitnya kecoklatan karena sering terpapar sinar matahari.
Rambut-nya tidak banyak yang memutih, tapi rambut dikepalanya sebagian sudah mengalami kerontokan dibagian tengahnya.
Kalau kau melihat matanya ada keteduhan disana, khas seorang ayah. kasih sayang yang tak terhingga terpancar jelas disana.


Dari-nya aku banyak belajar tentang arti kehidupan, tentang bagaimana menjadi manusia dewasa yang seharusnya.
Memang ia tak mengajarkanku, tapi ia memberikan contoh langsung.

Bagiku engkau orang yang paling tak egois di muka bumi ini, engkau selalu memikirkan anak-cucumu terlebih dahulu sebelum kau memikirkan-mu sendiri.

Dari-mu aku belajar kepedihan, kebahagian yang sederhana, kerja-keras, kejujuran dan rasa bertanggung jawab.
Tangan kokohmu selalu membelai penuh cinta anak-anaknya.
Bagaimana aku akan tega untuk mengecewakannya?
Bagaimana aku akan bisa untuk menyakitinya?
Bagaimana aku bisa menuntut banyak padamu? karena semua sudah lebih dari cukup.


Walaupun entah berapa banyak aku menyakitinya perasaannya baik disengaja ataupun tidak.
Atau berapa banyak kata "ah" yang terucap saat dia memintaku untuk melakukan sesuatu.

Memang aku tak bisa dengan langsung berucap "Aku Cinta padamu Ayah" karena aku bukan orang yang bisa mengekspresikan emosiku begitu saja.

Maka lewat ini-lah ku curahkan semuanya.
Betapa akau banggga menjadi anak-mu Ayah.

Kau memang bukan milioner seperti Bill gates yang bisa mewariskan berkarung-karung harta melimpah untukku, tapi bagiku cukup engkau-lah harta dunia-ku.

Kau memang bukan pahlawan negara ataupun pahlawan super yang sering ku tonton dalam film-film, tapi bagiku engkaulah pahlawan dalam hidupku.

Kau memang bukan mario teguh yang banyak memberikan inspirasi dan motivasi kepada banyak orang, tapi bagiku engkaulah motivator yang membuatku selalu bergerak untuk maju.

Aku masih ingat bagaimana aku sering pura-pura tertidur di depan TV agar kau membopongku ke tempat tidurku.

Lalu kau tengah malam datang ke kamarku untuk memastikan tak ada satu nyamuk-pun yang berani menggigitku.

Dan aku masih ingat setiap kau pulang "narik" selalu membawa coklat beng-beng dan ice cream untuk dibagikan pada anak-anakmu dengan rata.

Entah ini puisi, diksi atau curahan hati semata aku-pun tak peduli.

Jakarta, 17 November 2016

Comments

Post a Comment