Mereka Kaya Berkat Berita Palsu

Pagi ini nggak tau kenapa bisa nyasar ke postingan berita macam ini, dan ini kayaknya memang yang harus diwaspadai sama orang-orang zaman sekarang. banyaknya berita palsu yang dibuat oleh orang nggak bertanggung jawab demi kepentingan diri sendiri atau kebutuhan golongan untuk menjatuhkan seseorang atau menaikan pamor seseorang. Dan ternyata itu sudah mendunia, karena sebelumnya gue pikir berita palsu itu sudah menyeluruh di dunia. Gue jadi curiga selama ini janganjangan kita diberi berita palsu macam yang dibuat Paul Horner tersebut. Bukan orang awam aja yang kena bahkan sekelas Fox News aja bisa ngshare berita dari berita palsu ini. ishh ngeri emang, ngshare berita tanpa membuktikan kebenarannya. so simak aja tulisan dari detik.com dibawah ini biar kita semakin aware sama apa yang kita baca dan hati-hati nggak kemakan fitnah yang malah akan menjadi dosa.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo

Mereka Kaya Berkat Berita Palsu



Paul Horner, 38 tahun, mengklaim Donald Trump, Presiden Terpilih Amerika Serikat, punya utang budi sangat besar kepada dia. “Aku pikir dia terpilih ke Gedung Putih berkat jasaku,” kata Paul dengan percaya diri, kepada Washington Post, akhir November lalu.

Paul bukan konsultan politik, bukan pula orang yang bisa mengumpulkan pendukung dalam jumlah besar. Tapi Paul pintar mengaduk-aduk opini orang. Paul adalah juragan besar pembuat berita-berita palsu di Internet. Di antara para pembuat berita palsu, Paul merupakan pemain senior. Dia sudah bertahun-tahun mencari uang dengan membuat berita palsu.

Dan Paul menikmati pekerjaannya. Dia kadang membuat berita palsu sekadar untuk lelucon, kadang untuk meledek orang-orang. Sialnya, banyak orang percaya dengan berita “lelucon” buatan Paul. Berkali-kali berita palsu buatan Paul, misalnya soal seniman grafiti Inggris, Banksy, dibaca oleh jutaan orang.

Bahkan satu kali, berita palsu Paul soal Presiden Barack Obama dikutip oleh media besar, seperti Fox News. Donald Trump dan tim kampanyenya juga pernah mengutip berita palsu hasil karya Paul. “Kalian kenal Saul di serial Breaking Bad? Dia sangat lucu. Aku suka lelucon seperti itu,” kata Paul. Berkat “lelucon” yang kurang lucu ini, dia bisa mengantongi duit sekitar US$ 10 ribu atau Rp 133 juta dari pendapatan iklan setiap bulan.


Orang-orang sepertinya makin bodoh…. Mereka hanya asal membagikan berita. Tak ada yang mengecek kebenarannya.”

Paul Horner, pembuat berita palsu
Jadi jangan anggap enteng berita bohong. Survei terbaru situs berita Buzzfeed bersama Ipsos Public Affairs menunjukkan 75 persen warga Amerika Serikat yang membaca berita palsu percaya bahwa apa yang dia baca benar adanya.

Survei ini membuktikan, sangat sedikit pembaca berita, terutama berita yang beredar di jejaring sosial, yang mau sedikit repot mengecek kebenaran dan akurasi berita yang ada di depan matanya. Bahkan berita yang terdengar mustahil dan menggelikan saja, misalnya berita palsu soal dukungan Paus Fransiskus kepada Donald Trump, pun masih ada 65 persen yang percaya kebenaran berita ini.

“Pemilihan Presiden Amerika kemarin menjadi satu titik dalam sejarah politik modern di mana informasi dan disinformasi sama-sama menjadi penentu yang dominan,” kata Chris Jackson, peneliti dari Ipsos, kepada Buzzfeed.

Menyedihkan memang, tapi inilah faktanya. Lebih dari 75 persen warga Amerika yang ditanya Ipsos percaya berita yang sebenarnya palsu sebagai berita yang akurat. Bandingkan dengan keyakinan mereka terhadap akurasi berita yang memang ditulis berdasarkan fakta. Sekitar 83 persen—hanya beda 8 persen dari berita palsu—percaya berita itu memang akurat.


Bahkan di Brasil, berita-berita “aspal” alias asli tapi palsu di Facebook soal skandal korupsi di perusahaan minyak negara, Petrobras, malah dibaca lebih banyak orang ketimbang berita-berita dari media besar. Menurut analisis Buzzfeed, 10 berita palsu paling populer soal skandal Petrobras dibagikan lebih dari 3,9 juta kali. Padahal berita-berita orisinal paling populer dari media besar hanya dibagikan 2,7 juta kali.

Tak mengherankan jika para pembuat berita palsu tak perlu susah payah mencari dan meyakinkan pembaca. “Sejujurnya orang-orang sepertinya makin bodoh…. Mereka hanya asal membagikan berita. Tak ada yang mengecek kebenarannya. Itulah yang membuat Donald Trump terpilih,” kata Paul.

* * *

Pada 5 November lalu, hanya beberapa hari sebelum pemungutan suara dalam pemilihan Presiden Amerika, situs Denver Guardian memuat tulisan bertajuk “FBI Agent Suspected in Hillary Email Leaks Found Dead in Apparent Murder-Suicide”. Tulisan itu segera jadi viral, dibagikan di Facebook hingga lebih dari 500 ribu kali.

Padahal berita itu palsu belaka. Wartawan National Public Radio (NPR) berusaha menelusuri siapa orang di balik berita palsu itu. Dengan bantuan seorang jago teknologi informasi, dia menemukan Jestin Coler di Los Angeles. Coler, 40 tahun, sudah tiga tahun “berbisnis” berita palsu.

Pertama kali coba-coba menulis berita palsu, Coler terkejut melihat betapa gampangnya membuat berita palsu, betapa cepat berita itu menyebar dan bagaimana orang-orang menyambar berita palsu itu kemudian membagikan kepada kenalannya tanpa banyak pikir lagi. Kini Coler punya perusahaan, Disinfomedia, yang mengoperasikan puluhan situs berita palsu dengan mempekerjakan 25 penulis berita.

Resep menulis berita palsu, kata Coler, sangat gampang. Tulis berita apa saja yang memang ingin dilahap pembaca. “Mereka ingin dengar sesuatu, maka kami tinggal menuliskannya,” kata Coler. Semua isinya palsu: nama, tempat, dan kejadiannya. Dalam pemilihan Presiden Amerika lalu, Coler dan anak buahnya panen besar. Berita apa pun soal Trump langsung disambar pembaca.

Berkah dolar dari bisnis berita palsu ini mengalir sampai jauh sekali. Di Veles, kota kecil di Makedonia, ratusan pemuda turut menikmati guyuran dolar dari berita-berita palsu. Goran, 19 tahun, misalnya. Goran, bukan nama sebenarnya, mengaku baru sebulan ikut membuat berita palsu.

“Orang Amerika suka dengan berita kami dan kami mendapatkan dolar dari mereka. Siapa yang peduli apakah berita itu benar atau palsu?” kata Goran kepada BBC. Dari penulisan berita palsu ini, dia mengaku mendapat duit sekitar 1.800 euro atau Rp 25 juta. Jumlah yang lumayan besar untuk ukuran kota kecil di negara Balkan itu. Beberapa temannya yang sudah lebih pengalaman, menurut Goran, bisa mendapatkan duit jauh lebih besar dari bisnis berita palsu.

Ubavka Janevska, wartawan senior di Veles, cemas melihat anak-anak muda di kotanya terlibat bisnis berita palsu. “Aku khawatir dengan moralitas anak-anak ini…. Apa yang ada di pikiran mereka hanyalah bagaimana membuat berita palsu dan mendapatkan duit dari kebohongan itu,” kata Ubavka. Sekarang pemuda di Veles membuat berita palsu untuk pemilihan Presiden Amerika. Bukan tak mungkin, ketika ada peluang di Veles atau Makedonia, mereka juga akan menyebarkan berita palsu di negaranya.

Comments

Post a Comment