Menguap



Dulu,
Ku beranggapan.
Takan habis semua tentangmu.

Nyatanya,
Kini kau telah menguap.
Menguap bersama embun pagi, sejak malam itu.
Tak ada lagi yang bisa aku katakan untukmu.

A hingga Z, tak mampu kembali ku susun untuk menggambarkanmu.
Aku benar-benar telah lepas dalam belenggumu.
Haruskah aku bahagia?
Atau berduka?

Karena kehilangan peran utama.
Dalam bait-bait penuh cinta.
Tapi kini aku sungguh lega.
Tiada lagi malam-malam menyiksa.
Apalagi uraian air mata.

Jakarta, Rabu 27 September 2017


Sumber gambar : http://www.palaceworks.net/One-Two

Comments

Post a Comment