Pada Suatu Hari (Part 1)



 many ways to push people over edge...harass them get them to vent bc you took away all their friends then actually murder them and tell the world it was suicide
Langit malam jakarta sudah terlalu pekat, jalanan juga sudah mulai sepi. Sejak tadi angkot atau kopaja mengklackson ke arahku berharap aku akan ikut naik. Tapi aku tidak bernafsu. Entah kakiku akan membawa kemana. Aku butuh sendiri dan kedamaian, biasanya dengan berjalan kaki tak tentu arah akan berhasil seperti yang sudah-sudah. Aku menggenggam buku naskahku yang terdapat draft-draft novel yang tak pernah bisa terselesaikan. Selalu saja ada kendala dan stuck bahkan baru saat di bab pertama. 

“Pada akhirnya kita semua tidak akan bisa jadi penulis. Mungkin kita hanya terlalu banyak membaca hingga terlalu terobsesi untuk menjadi penulis seperti mereka” Kalimat dari mentor di grup penulisanku  itu sejak kemarin malam bergaung di kepalaku. Seperti gaungan dalam gua yang kosong terpental kesana kemari sangat menyiksa. Memang itu ia katakan di grup, tapi rasanya itu khusus untukku. Karena memang akulah satu-satunya yang tidak berbakat di grup itu, mungkin aku selamanya akan menjadi seseorang yang hanya mampu menuliskan curhatan-curhatan alay di diary tanpa bisa membuat buku seperti para penulis besar. Atau setidaknya kawan seperjuangnku yang sudah mampu menerbitkan buku walupun masih indie.

Aku sudah terlalu putus asa untuk meneruskan langkahku untuk menjadi penulis. Mungkin aku harus berhenti menulis dan mencari kegiatan lainnya. Dan sekali lagi mungkin memang benar apa yang dikatan mentorku itu. Aku tidak berbakat dan tidak akan pernah bisa menjadi penulis. 

Sungai kalideres di sampingku nampaknya begitu menggoda, airnya yang pekat dan penuh sampah pasti bisa menyembunyikan tubuhku kelak. Tenggelam dan tersangkut sampah, sangat sempurna hilang dari muka bumi ini. Toh sepertinya dunia ini tidak keberatan dengan kehilangan satu orang manusia tak berguna dan tak berbakat ini. Mungkin hanya bumi yang akan mengeluh karena aku mengotorinya dengan jasadku nanti. 

Aku menengok ke kanan-kiri, jalanan sudah sangat sepi bahkan kendaraan sudah jarang. Sekalinya ada ia melaju dengan cepat. Aku menghirup udara di sekitarku dengan serakah, menguatkan diri bahwa semuanya akan berakhir saat ini juga. Mimpi yang terlalu tinggi, orang-orang yang tak pernah mencintaiku. Akhirnya aku harus mengambil langkah ini, toh ini bukan pertama kalinya aku memikirkan untuk mati, sudah berpuluhan kali aku menuliskan dalam diary. Satu-satunya yang menjagaku tetap hidup adalah dengan menuliskan semua emosiku pada buku diary. Tapi kini tulisan-kupun takan bisa menyelamatkan. Dan ini momen yang tepat sebelum ada yang mencegahku apalagi berubah pikiran seperti sebelumnya.

PLUKK!!
Buku naskahku sukses tenggelam perlahan dalam sungai yang pekat itu, kini tinggal sang empunya yang-kan menyusul. 

Bersambung...


Sumber gambar : https://id.pinterest.com/pin/172333123224110027/

Comments

  1. Hey! Jangan jatoh dulu. Dirimu belom bayar utang *eh ahahahah

    ReplyDelete
  2. Hei, jangan mati di situ, kau akan menyusahkanku, matilah di tempat lain, teriak sungai.
    Ah siapa itu yang teriak? Aku mengerjap-ngerjap, melihat ke arah suara. Dan....

    ReplyDelete
  3. Ditunggu sambungannya, Mas?
    lihat gambar diatas ko rasanya ikut adem ya, rasanya gerah banget pagi ini. Mandi trus ke masjid.. slamat nyubuh mas..

    ReplyDelete
  4. Bersambung juga....di tunggu kelanjutannya ya

    ReplyDelete
  5. Jangan terjun dlu, masih jomblo, eh, wkwk

    ReplyDelete

Post a Comment