Minggu


Hari ini hari minggu. Namun aku tidak duduk disamping pak kusir yang sedang bekerja, mengendarai kuda agar baik jalannya. Aku menyelinap keluar rumah, memelankan langkah dan meminimalisirkan suara dari  gerakan daun pintu dan kunci agar orang rumah tak sampai mendengarnya. Langit masih gelap, kendaraanpun masih jarang. Aku berlari kecil seirama dengan alunan musik dari gawaiku. Tiba-tiba aku merasa kembali ke masa lalu, saat aku masih berumur sembilan. Teman-temanku sudah menunggu di ujung jalan seperti yang sudah di sepakati kemarin sore seusai bermain dilapangan.



Setelah berkumpul semua kami akan mulai berlari kecil selama lima menit pertama karena seterusnya kami hanya berjalan santai sambil bercanda. Sesekali dan akan kembali berlari setelah melihat tujuan kita bahkan berlomba siapa yang bisa lebih cepat sampai disana.

Kalau kami sedang malas lari pagi, kami akan pergi ke salah satu rumah teman untuk menonton televisi bersama-sama. Biasanya kami akan memilih rumah teman yang punya televisi berukuran besar.

Bapak juga kadang mengajak aku dan kedua kakakku berlari di sekitar kompleks yg ramai oleh orang berlari pagi, lalu di tutup dengan menyantap mie ayam langganan. Family time yang menjadi kenangan, dan aku tersadar saat ini bukan saatnya lagi untuk mengingat kenangan. Tapi membuat kenangan yang tak akan dilupakan. Meninggalkan jejak pada memori-memori setidaknya satu atau dua insan untuk dikenang.

Comments

  1. kenangan itu spt nya selalu "abadi" ya, walau sdh puluhan tahun ttp tersimpan d dlm ingatan

    ReplyDelete

Post a Comment