Jodoh Untuk Lala - Part Enam



Emak meminta Lala hari ini untuk langsung pulang ke rumah begitu pulang dari kerja. Akan ada acara kumpul keluarga ujar Emak, yang dimaksud kumpul keluarga biasanya adalah arisan keluarga yang dibuat para saudara-saudaranya untuk mengikat tali silaturahmi. Tempat acarapun bergantian, tergantung nama siapa yang keluar di bulan sebelumnya. Mungkin bulan ini Emak yang kebagian sebagai tuan rumah, Lala jarang ikut arisan keluarga saat sudah bekerja. Karena ia lelah ditanya kapan nikah oleh saudara-saudara yang lainnya. 

Itu pula yang membuat emak gerah sehingga memaksa perjodohan antara dirinya dan Somad. Bagaimana tidak? sebulan sekali mendapat pertanyaan ‘Kapan anak lu kawin? Nanti jadi perawan tua lu..!’. Mungkin keluarga normal lainnya hanya harus menjawab setahun sekali(Hanya saat lebaran) pertanyaan tersebut, tapi di keluarga besar Lala setiap bulan ia harus mendapatkan pertanyaan itu dua belas kali paling sedikit selama setahun, belum ditambah saat ada hajatan-hajatan, acara ulang tahun saudara-saudaranya ditambah lagi saat lebaran.

Sesampainya di rumah, Lala melihat makanan di meja makan sudah lengkap seperti akan ada hajatan besar-besaran. Mulai dari soto betawi buatan emak, semur jengkol, nasi uduk dan kawan-kawan, sampai kue-kue khas betawi seperti kue cucur, lupis, kue pepe bahkan sampai roti Gambang yang sudah mulai langka, entah darimana emak mendapatnya. Makanan sudah selesai semua tertata rapi diatas meja, lalu untuk apa ia dibutuhkan sekarang? Biasanya ia kan menghindar pergi begitu membantu emak selesai menyiapkan makanan. Ke rumah Rika atau mengajak Aldo jalan kemana saja. Asal bisa absen dari acara yang akan menyudutkan Lala dengan pertanyaan sakral itu.

“Mak, ini udah kelar semua kan? Ngapain Lala suruh pulang cepet?” tanya Lala pada emak yang sedang duduk di depan cermin kamar, berdandan dengan rapi dan sedikit menor dengan lipstik yang merah menyala seperti lampu merah.

“Dih kepo amat lu. Udah sono mandi terus dandan yang cakep. Bentar lagi pada dateng tamunya.” Jawab emak tanpa menoleh sedikitpun kearah Lala yang sedang bergelendotan di depan pintu kamar emaknya dengan manja. Emak masih serius membentuk alisnya dengan pensil alis.

“Ih Lala males mak. Lala pergi ke rumah Rika ajalah ya.” Suara Lala dibuat semelas mungkin.

“Kagak bisa, enak aja lu. Sekali-kali kumpul ama sodara lu ngapa. Mau dikata sombong  lu?? Udah sana mandi.” Teriak emak kali ini terpaksa melihat ke arah Lala dengan mata melotot galak, seperti saat menyuruh Lala kecil pergi membeli garam dan minyak goreng di warung tanpa upah.  Lala yang lemah dengan tatapan tajam Emak, segera pergi mandi dan mengikuti perintah emak. Ia takut di kutuk menjadi ikan pari atau malah jadi batu seperti Malin Kundang. Senakal-nakalnya Lala, ia tak pernah mau membantah omongan orang tuanya(kecuali soal perjodohan kemarin). Terutama emak!
Lala menyapukan tipis-tipis bedak di kedua pipinya, ia tidak memakai lipstik hanya memakai lipgloss yang membuat bibirnya terlihat mengkilap. Warna antural bibir Lala memang sudah cantik tanpa lipstik. Rambutnya ia ikat buntut kuda ke belakang, membuat wajah mungil Lala terlihat lebih dewasa.

Lala sebenarnya bingung pakaian apa yang akan ia kenakan? Apa pakai kaos dan jeans saja sudah cukup?? Pakai kemeja, terlalu formal seperti akan melamar pekerjaan, pakai kebaya? Ini bukan acara kartini kan? Ia teringat long dress yang kemarin ia beli bersama Rika, mereka berdua sering membeli barang bersama-sama bahkan terkadang barang yang sama hanya beda warna saja. Malah sering barang yang benar-benar sama yang mengakibatkan mereka sering dibilang kembar saat menggunakan barang-barang itu. Long Dress berwarna merah muda, dengan ornamen bunga membuat Lala terlihat santai tapi tetap anggun.

“Ya Allah, anak emak cantik banget dah.” Ujar emak kagum yang tiba-tiba sudah berada di belakang Lala yang tengah mematut diri di depan cermin besar yang menempel pada pintu lemari pakaiannya itu.

“Iyalah, anak emak gitu loh!.”

“Si Somad mah pasti langsung ke sengsem ini mah begitu ngliat lu entar. Ehh!!” Emak keceplosan.

“Apaan mak? Somad? Ngapain dia kesini?.” Lala mencecar Emak dengan pertanyaan, ia kaget mendengar pernyataan Emak barusan.

“Ehh..ehh....”

TINN TINN TINN

Belum sempat emak menjawab, sudah di terinterupsi bunyi klakson mobil dari luar. Emak bergegas keluar rumah menyambut tamu yang sudah datang, wajah Lala memberengut tapi ia ikut keluar mengikuti Emak.

Babeh sudah keluar lebih dulu menyambut keluarga sahabatnya itu yang baru keluar dari pintu mobil. Emak menunggu di depan teras ditemani Lala yang mencoba menyembunyikan kekesalannya dengan senyum tipis begitu melihat rombongan keluarga itu memasuki pekarangan. Lala bersalaman dengan keluarag Haji Daud, ia masih ingat wajah haji Daud dan isterinya Mak Enah yang wajahnya terlihat cantik karena masih punya garis keturunan arab betawi. 

Ada pula Thariq kakak Somad yang mempunyai hidung mancung arab dan berperawakan tinggi, ia dulu sempat naksir kepada Thariq. Sayangnya ia sudah beristeri sekarang. Isterinya Kesha yang kini tengah bersalaman dengannya sedang hamil empat bulan anak kedua mereka. Pasangan yang serasi pikir Lala. Salim, anak laki-laki Thariq dan Kesha itu dengan malu-malu mencium tangan Lala dan kembali bersembunyi di belakang ibunya. Somad mana? Tanya Lala penuh tanya. Ia sudah lupa wajah Somad, karena Somad memang sekolah diluar negeri saat lulus dari SMP karena mendapat beasiswa. Emak mempersilahkan tamunya langsung masuk ke ruang makan, karena memang sudah waktunya makan malam. Satu bangku masih kosong, Somad tidak datang sepertinya. Mungkin ini memang hanya pertemuan biasa untuk melepas rindu anatara Keluarga Babeh dan Keluarga Haji Daud.

“Ayo langsung dimakan aja, udah laper kan?” Babeh mempersilahkan untuk langsung menyantap hidangan yang melimpah diatas meja tersebut. Tanpa disuruh untu kedua kali mereka makan dengan lahap diselingi obrolan yang di dominasi oleh babeh dan Haji Daud yang sudah lama tidak bersua. Selebihnya sisa-sia pertanyaan kepada Lala tentang pekerjaan Lala saat ini dan kegiatannya sehari-hari. Lala hanya menjawab dengan singkat, karena merasa canggung dengan Haji Daud yang dulu sering di isengi Lala. 

Pecinya sering disangkutkan keatas pohon rambutan depan rumahnya kala itu. Dan rupanya ia masih ingat hal itu. Merekapun tertawa sat menceritakan kembali hal nakal saat Lala kecil dulu. Tiba-tiba suara mobil memasuki pekarangan menginterupsi obrolan mereka.

“Nah itu Somad deh kayaknya, dia tadi ada urusan mendadak soalnya.” Ujar Haji Daud.

“La, tolong samperin kedepan yee..” Pinta Emak. Lala menatap Emak dengan tatapan ‘kenapa harus Lala mak?’ dan emak membalas dengan tatapan ‘buruan jalan, jangan nanya mulu kayak Dora’  terpaksa Lala berjalan keluar menyambut satu tamu kesiangan di depan.

Part 1   |   Part 2   |   Part 3   |   Part 4   |   Part 5   |   Part 6   |   Part 7  |


Comments