Suntik Mati


Aku terka dengan menuliskan,
Semua rinduku ia akan habis.
Seiring dengan tinta yang ku goreskan.

Namun, bukannya meranggas,
Seperti dedaunan di musim gugur.
Ia malah berkembang semakin rapat,
Seperti rangkaian kata tanpa spasi.

Aku terka dengan tak mengungkapkan,
Semua rasaku akan padam.
Seiring dengan waktu yang berjalan.

Namun bukan mematikannya.
Malah kubiarkan ia menjadi kuman,
Yang terus membelah diri setiap detiknya.
Hingga menjadi jutaan.
Mengambil alih sel dalam tubuhku menjadi memori akan dirimu.
Dan kini aku tak lagi hidup karena darah yang mengalir dalam tubuhku.
Aku hidup dengan bayangmu yang menghantu.

Adakah anti vaksin untuk hal yang semacam ini?

Selain dari suntikan mati!

Comments

Post a Comment